Elmira berlari menuruni tangga darurat, napasnya hampir putus. Jantungnya berdentum begitu keras, seolah hendak pecah dari dadanya. Setiap kali menoleh, ia bisa mendengar langkah Surya menghantam tangga logam dengan cepat, semakin dekat. Ya Allah, tolong aku… Ia akhirnya tiba di lantai tiga. Tanpa pikir panjang, Elmira mendorong pintu darurat dan masuk ke koridor gelap yang mengarah ke gudang logistik. Ruangan itu penuh kotak kardus dan lemari arsip tua, baunya pengap. Elmira bersembunyi di balik tumpukan kardus, menahan napas. Sesaat kemudian, pintu darurat terbuka keras—BRAK!—dan suara langkah Surya terdengar. “Siapa pun kamu… aku tahu kau masih di sini,” suaranya berat, dingin, membuat bulu kuduk Elmira berdiri. Surya berjalan pelan, matanya menyapu ruangan. Elmira menggenggam pon

