Elmira duduk di ruang kerja Malik. Lampu meja menerangi tumpukan dokumen dan laptop terbuka di depannya. Tangannya gemetar saat mengetik pesan ke seseorang yang dulu pernah menjadi sahabatnya sekaligus mantan karyawan Arga. “Aku butuh semua data keuangan dan foto-foto Arga yang kamu simpan. Ini darurat.” Pesan terkirim. Elmira tahu, ini langkah berbahaya—karena jika ketahuan, ia bisa dianggap memfitnah. Tapi jika dibiarkan, Arga akan terus menusuknya. Pintu terbuka. Malik berdiri di ambang, menatapnya lama. “Kenapa kamu gelisah sejak kemarin?” suaranya tenang, tapi dingin. Elmira menarik napas. “Malik… aku janji akan cerita. Tapi aku butuh sedikit waktu. Kalau aku cerita sekarang, mungkin kamu akan marah dan nggak mau dengar sisanya.” Malik hanya menatap, lalu berkata, “Waktu itu m

