Dina memandang Liana dengan ekspresi khawatir. Ia melihat jelas lingkaran hitam di bawah mata wanita itu, kulit pucatnya, dan tubuhnya yang tampak lemah. Satu malam cukup membuat Liana terlihat begitu berbeda. Luka batin yang ia simpan jelas terpampang meski ia berusaha menutupinya. “Tapi Nona… tolong. Kalau Nona tidak makan, saya yang akan dimarahi. Tuan Virion akan menyalahkan saya karena tidak menjaga Nona dengan baik,” ucap Dina memohon. Liana mengangkat kepala perlahan, menatap Dina dengan tatapan rapuh. Ucapan itu membuat dadanya makin sesak. Ia menatap roti panggang dengan selai di nampan. Makanan yang sederhana, tapi entah mengapa terasa begitu hangat saat ini. Liana mengangguk pelan. “Terima kasih, Dina.Aku akan memakannya.” Dina menghela napas lega, senyum kecil tersungging

