Bab 5

1070 Kata
Semua mata tertuju pada mereka. Wanita-wanita bergaun mahal mengerjapkan mata, nyaris tidak percaya dengan siapa Virion datang malam itu. Lelaki yang dikenal dingin dan sulit didekati kini hadir menggandeng seorang wanita luar biasa memukau bukan sekadar cantik, tapi menyala seperti api. Para pria mengangguk kagum, beberapa bahkan terlihat memandang dengan sorot penuh kekaguman yang tak bisa disembunyikan. Sementara mempelai wanita yang berdiri di atas panggung, mantan kekasih Virion, tampak kaku seketika. Senyumnya memudar, seperti terlindas keanggunan yang jauh lebih mencolok. Virion dan Liana berjalan perlahan, memasuki aula dengan wibawa dan keanggunan yang tidak dibuat-buat. Keduanya seperti pasangan kerajaan yang baru saja tiba untuk menguasai tahta. Di setiap langkah, tatapan Virion tetap ke depan. Namun jemarinya menggenggam tangan Liana sedikit lebih erat, seolah ingin memastikan bahwa malam ini, wanita di sampingnya benar-benar miliknya. Liana, di sisi lain, membiarkan senyum samar mengembang di bibirnya. Bukan senyum manis. Tapi senyum seorang aktris yang tahu betul bagaimana memainkan peran dan memainkan hati orang-orang di sekelilingnya. “Lihatlah mereka,” bisik Virion tanpa menoleh. “Seluruh ruangan ini tak bisa berhenti menatapmu.” “Sempurna,” jawab Liana datar. “Karena itulah yang kau bayar.” Virion terkekeh pelan. “Tapi sejujurnya, aku tak menyangka kau akan terlihat sehebat ini.” Liana menoleh sedikit, matanya tajam menatap sisi wajah pria itu. “Berhentilah terkesan. Aku tidak melakukannya untukmu.” Virion menanggapi dengan senyum miring. Tapi ia tak membalas lagi. Karena mereka kini telah berdiri di hadapan para tamu utama. Beberapa tamu menyapa, menyodorkan tangan, dan memperkenalkan diri. Sebagian lain hanya memandangi mereka dengan campuran rasa penasaran dan kekaguman. Di sisi ruangan, mantan kekasih Virion terus mencuri pandang, namun tak sanggup menyamakan keberadaan dirinya dengan wanita di sisi pria yang dulu pernah mengisi hatinya. Kilauan lampu kristal menggantung anggun di langit-langit ballroom, memantulkan cahaya ke wajah-wajah para tamu yang terpukau oleh kedatangan dua orang itu, Virion Calderon dan Liana, wanita asing yang mencuri panggung hanya dengan tatapan dan cara berjalannya. Virion tak butuh basa-basi. Begitu mereka tiba di tengah ruangan, langkahnya membawa mereka langsung ke arah pasangan pengantin yang berdiri di sisi panggung. Sang pengantin pria tampak canggung, tapi tetap menyambut mereka dengan tangan terbuka. Sementara mempelai Wanita, Maria menegang, senyumnya kaku, sorot matanya menusuk seperti ingin melubangi tubuh Liana hanya dengan tatapan. "Lama tidak bertemu, Virion," sapa Maria akhirnya, suaranya berusaha terdengar ramah tapi ada getaran tak bisa disembunyikan. Virion menanggapi dengan anggukan datar, dingin. Ia bukan pria yang menyimpan senyum untuk mantan. Namun kemudian, ia menarik Liana sedikit lebih dekat. Tangannya berpindah ke pinggang ramping wanita itu. Genggamannya kuat, seolah ingin menegaskan sesuatu bahwa ia sedang menunjukkan miliknya. "Perkenalkan," katanya dengan suara berat dan nada setajam ujung belati. "Ini kekasihku." Maria nyaris tersedak oleh anggur yang belum sempat ia telan. Seisi meja tamu terdekat yang mendengar langsung membungkam. Keheningan tiba-tiba menggantung di udara, seolah kalimat itu memecah balon kepura-puraan yang sempat mengambang sepanjang acara. Liana tidak kehilangan kendali. Bahkan, ia terlihat menikmati setiap detik ketegangan yang terjadi. Dengan senyum hangat dan suara yang lebih lembut daripada biasanya, ia menambahkan, “Virion terlalu hemat kata-kata. Sebenarnya, kami sudah cukup lama bersama. Tapi... kalian tahu sendiri, pria ini lebih suka merahasiakan hal-hal yang menyenangkan.” Senyumnya berkilat, penuh makna. Tatapan matanya langsung menghantam mata Maria, tak memberi ruang untuk bernapas. Maria membuka mulutnya, tapi tak ada kata yang berhasil keluar. Liana melangkah pelan, menyentuhkan tangan pada d**a Virion lalu membetulkan dasinya dengan gerakan sensual yang disengaja. “Sayang, kau lupa menyebutkan satu hal,” bisiknya dengan suara cukup keras untuk didengar Maria. “Katakan pada mereka... siapa yang paling kau inginkan malam ini.” Virion tidak tersenyum. Tapi tatapannya membara. Tangannya tetap di pinggang Liana. "Apa kau butuh aku menyebutkan itu di depan umum?" gumamnya pelan, suaranya terdengar seperti peringatan dan ancaman dalam satu tarikan napas. Namun Liana membalasnya dengan lirikan genit. “Tentu tidak. Tapi ada orang yang butuh bukti, bukan sekadar kata. Benar, Maria?” Maria tersentak. Ia memaksakan senyum. “Aku turut bahagia untuk kalian,” ucapnya dengan nada yang dipoles sebaik mungkin, meski jelas terdengar getir. “Begitukah?” Liana mengedip pelan. “Karena dari caramu memandang Virion... aku hampir salah sangka.” Maria tidak menjawab. Ia hanya melirik ke arah Virion, lalu kembali memalingkan pandangan ke samping mencoba menyelamatkan harga diri. Virion tampak tak peduli. Ia hanya menegakkan tubuhnya lebih tinggi, lalu menuntun Liana menjauh dengan angkuh. Setiap langkah keduanya seolah menjadi palu godam yang menghancurkan sedikit demi sedikit ketenangan Maria. Alunan musik klasik mengalun lembut di dalam ballroom yang megah. Para tamu mulai menyibukkan diri dengan hidangan pembuka, sementara obrolan ringan dan tawa sopan mengisi udara. Liana berdiri di sisi Virion dengan postur anggun dan sorot mata tajam yang tetap awas, meskipun ia tampak seperti seorang wanita glamor yang menikmati pesta. Gaun sutra yang memeluk tubuhnya sempurna memancarkan aura berbahaya sekaligus memikat. Virion tampak bangga. Ia menyesap wine pelan sembari sesekali melemparkan senyum tipis penuh makna pada para tamu yang mencuri-curi pandang ke arah mereka. Tak lama, langkah kaki terdengar mendekat. Seorang pria paruh baya, mengenakan setelan jas abu tua yang rapi, datang menghampiri mereka dengan senyum lebar. Tatapannya tajam tapi ramah, seperti seseorang yang sangat terbiasa bermain di wilayah abu-abu kekuasaan. "Virion Calderon," sapa pria itu sembari menjabat tangan Virion erat. "Selalu menyenangkan melihatmu di acara seperti ini." Virion membalas jabatan itu dengan tenang. “Senang kau datang, Tuan Grant.” Tuan Grant lalu mengalihkan perhatiannya ke Liana. Senyum di wajahnya berubah, menjadi lebih dalam. "Dan ini pasti wanita yang beruntung, atau mungkin justru pria ini yang beruntung?" candanya, sambil mencium punggung tangan Liana dengan sopan. “Anda tampak... luar biasa malam ini, Nona.” Liana mengangguk kecil, senyumnya elegan. "Terima kasih, Tuan..." "Grant," jawabnya cepat. "Elias Grant. Saya salah satu klien lama Virion. Dunia bisnis memang kejam, tapi sesekali, kita perlu istirahat, bukan?" Virion hanya menyeringai samar, membiarkan obrolan mereka mengalir. Namun ketika perhatian Virion sempat teralihkan oleh tamu lain yang datang menyapa dari belakang, Elias Grant memiringkan tubuhnya sedikit, mendekat ke arah Liana. Suara rendahnya berubah lebih pribadi, lebih licin. “Aku tau siapa kau sebenarnya.” Liana langsung menegang, meski wajahnya tetap tak menunjukkan keterkejutan. Ia hanya menoleh perlahan, menatap pria itu dengan sorot mata setajam bilah kaca. “Saya tak tahu apa yang Anda bicarakan,” ucapnya dingin. Elias terkekeh rendah. “Jangan khawatir. Saya bukan tipe pria yang menjatuhkan kartu hanya karena mengenali satu pemain. Tapi akan menyenangkan melihat bagaimana permainan ini berakhir.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN