"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Liana panik. Ia buru-buru menarik selimut, melilitkannya ke seluruh tubuh untuk menutupi dirinya.
Pemuda itu langsung mengalihkan pandangan, menghormati privasi yang nyaris tak tersisa.
Setelah Liana selesai membungkus tubuhnya, barulah pria muda itu kembali menatap wajahnya dengan hati-hati.
"Aku khawatir terjadi sesuatu pada Kak Liana, jadi... aku diam-diam mengikutimu sampai ke tempat ini. Dan ternyata... berhasil." jawabnya, pelan tapi tegas.
Liana mengangguk pelan. "Kalau kamu bukan orang cerdik, tak mungkin bisa bekerja dengan Ayahku di usia semuda ini."
Pria itu hanya tersenyum. Tapi senyuman itu tak menjangkau matanya. Ada sesuatu yang ia sembunyikan. Matanya menatap ke arah bahu Liana, ada bintik merah yang samar terlihat dari balik selimut.
"Tapi..." ucapnya lirih, suaranya mengambang. "Kakak benar-benar yakin dengan keputusan ini?"
Liana menatapnya dalam. Tatapan mereka terkunci, seolah sedang berbicara tanpa suara. Hening, namun padat makna.
Tatapan Liana dingin, penuh ambisi. Ada kilatan dendam dan luka yang tak sembuh dalam sorot matanya.
"Kamu tahu kan? Aku tidak pernah menarik ucapanku," ujarnya akhirnya, disertai helaan napas berat. Kepalanya menunduk perlahan, seolah bayangan kelam sepuluh tahun lalu kembali menyergapnya.
Tangan di sisi tubuhnya mengepal erat. "Aku tidak akan pernah lupa apa yang dilakukan Calderon pada kami. Sampai kapan pun. Bahkan sebelum aku mati, aku harus memastikan mereka tersiksa perlahan-lahan. Aku sudah melangkah sejauh ini. Jadi tentu saja aku harus menyelesaikannya sampai akhir. Tuan Calderon... harus membayar semuanya lunas," katanya, gigi terkatup menahan gejolak amarah.
Rafa tampak mengerti. Raut wajahnya berubah sendu, simpati mengendap di matanya. Tapi ada sesuatu yang tak terbaca... sesuatu yang hanya bisa dikenali oleh mereka yang benar-benar peka. Dan Liana, jelas bukan salah satunya saat ini.
"Tapi, Kak... kenapa harus menyerahkan sesuatu yang begitu berharga milik kakak? Itu adalah..." ucapnya ragu, suaranya pelan dan terhenti saat Liana menatapnya Kembali tatapan yang cukup tajam untuk membungkam siapa pun.
"Rafa," gumam Liana lirih, menyebutkan namanya. "Pernahkah kamu melihatku jatuh cinta? Atau menangis karena seorang pria?"
Rafa tak menjawab. Karena dia tahu jawabannya.
"Aku bukan gadis lugu. Bukan pula wanita normal. Aku tak pernah berniat punya masa depan, apalagi menikah atau punya suami. Semua itu tak masuk dalam kamus hidupku. Yang aku butuhkan hanya satu hal , membuat Calderon merasakan penderitaan yang pernah keluargaku alami. Mereka harus tahu rasanya kehilangan, terinjak, dihancurkan. Dan aku akan melakukan apa pun untuk itu. Termasuk... menyerahkan sesuatu yang kau anggap milikku yang paling berharga," katanya tajam, penuh keyakinan.
Rafa hanya terdiam. Ia sudah tahu semua itu. Liana bukan perempuan biasa, ambisinya sebesar luka yang ia simpan. Mungkin ia bertanya tadi, bukan untuk mendebat, tapi hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri... atau untuk menghibur hatinya yang mulai remuk.
"Aku mengerti. Aku akan melindungi kakak semampuku. Tolong jaga dirimu baik-baik. Jika terjadi sesuatu... kirim sinyal," ucap Rafa dengan tulus.
Liana menepuk bahunya perlahan. "Tentu, Rafa Ghost. Sekarang cepat pergi. Aku takut pria Calderon itu akan masuk kapan saja."
Rafa baru saja hendak menjawab saat—
Ceklek!
Suara pintu terbuka mendadak membuat napas Liana tercekat.
Dengan sigap, ia mendorong Rafa ke arah pintu kamar mandi. Selimut tebal yang masih melilit tubuhnya membuatnya hampir tersandung, tapi untungnya Rafa cekatan menariknya masuk.
Keduanya kini bersembunyi di dalam kamar mandi. Liana buru-buru menghidupkan shower dan berpura-pura sedang mandi.
Tok tok tok.
Pintu kamar mandi diketuk. Suara berat dan dalam terdengar dari luar.
"Apa kau di dalam?"
Tak salah lagi. Itu suara Virion Calderon.
Liana berdeham, menyamarkan kegugupannya. "Iya."
"Baru mandi?" tanya Virion lagi.
"Ya," jawab Liana sedikit keras, lebih keras dari biasanya. "Bisakah kau tidak mengganggu aktivitasku, Tuan? Atau kau belum puas dengan kegilaan semalam yang nyaris menghancurkanku?"
Terdengar suara tawa rendah dan serak di balik pintu. Tawa yang sering membuat wanita meleleh, tapi tidak Liana. Ia terlalu kuat untuk terpikat oleh suara semacam itu.
"Ada yang ingin kubicarakan. Segera selesaikan mandimu. Kau juga belum sarapan. Makanlah dulu, lalu turun menemuiku."
"Hmn," sahut Liana dingin.
Beberapa saat berlalu. Tak ada lagi suara langkah kaki. Keheningan mengindikasikan bahwa Virion sudah pergi.
Liana mematikan shower. Rambutnya basah, selimut pun ikut lembap. Ia menoleh ke Rafa yang berdiri kaku di pojok ruangan, diam seperti patung.
Ia memberi isyarat agar tetap tinggal di sana sementara dirinya mengecek keadaan.
Pelan-pelan, Liana membuka pintu dan mengintip ke kamar.
Kosong.
Ia menoleh lagi. "Kau harus segera pergi."
Rafa mengangguk. "Aku pergi sekarang. Sebentar lagi bodyguard yang kugantikan mungkin akan sadar. Sampai jumpa, Kak Liana."
Dan begitu saja, Rafa menghilang meninggalkan kamar secepat ia datang.
Liana menatap pintu kamar yang tertutup rapat, lalu menghela napas. Kali ini, ia benar-benar mandi.
Beberapa saat kemudian, setelah membersihkan diri, Liana mengenakan gaun santai yang dibawakan Dina. Ia menyantap sarapannya yang sudah mulai dingin. Tak peduli. Energi lebih penting saat ini.
Setelah semuanya selesai, ia melangkah keluar kamar, menuju lantai satu. Kamarnya berada di lantai tiga, dan pengawal pribadi sudah menunggunya.
Tanpa banyak bicara, ia dibawa menuju ruang kerja Virion.
Begitu tiba, ia langsung bertanya, tanpa basa-basi.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
Virion sedang duduk santai di belakang meja kerjanya. Begitu melihat Liana, ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Selamat datang, Liana. Kau terlihat cantik dalam gaun itu."
"Aku tidak mengenakannya untuk menyenangkanmu," balas Liana dingin.
"Jawabanmu sesuai ekspektasiku. Tapi jangan lupa, mulai sekarang, tugasmu adalah menyenangkanku... dan memuaskanku."
Liana memiringkan wajahnya sedikit, senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Kau pikir aku terlihat seperti wanita yang rela menyapu lantai dan membersihkan sepatumu?"
Virion tertawa pelan. Tawa rendah yang dalam, nyaris mendesis. Suara itu bisa membuat kulit siapa pun meremang, kecuali Liana. Ia sudah kebal.
"Bukan," jawab Virion, berdiri dari duduknya. Langkahnya pelan saat ia mengitari meja, mendekatinya. "Kau tidak untuk menyapu lantai."
Liana tetap berdiri tenang, tak gentar.
Langkah Virion berhenti tepat di hadapannya. Ia memajukan tubuhnya sedikit, wajahnya mendekat, lalu berbisik rendah.
"Kalau kau harus berlutut... itu bukan untuk membersihkan sepatuku. Tapi untuk melakukan sesuatu yang menyenangkanku. Dan... hari ini, mungkin kita bisa mencobanya."