"Bagus yah lo, pergi tanpa kabar dan pulang cengengesan begitu. Lo tahu, perusahaan lo hampir hancur dan lo malah enak-enakkan ninggalin kantor. b*****t, lo!" Mail yang baru masuk ke dalam ruangannya melongo mendengar rentetan kalimat Bagas. "Kenapa sih lo? Lagi PMS?" Bagas mendesah. Dia tahu jika Mail itu hidupnya tidak pernah banyak beban. Apa yang memang terjadi dia jalankan dengan caranya. Bagas ingin memiliki sifat seperti Mail yang tidak pernah banyak berpikir. Namun Bagas tidak bisa, dia merasa semuanya salah. Tanggung jawabnya seakan begitu besar, bahkan dia merasa sehari tidak masuk kantor akan ada banyak datang masalah. Terakhir mereka bertemu satu bulan lalu saat Mail memintanya bertemu. Setelah itu mereka jarang bertemu namun semua laporan selesai sesuai tepat waktu. Mail

