214

1271 Kata

Radit sudah berdiri dan pergi dari kursi makannya sambil menggebrak meja makan karena kesal dan penuh emosi. Mau makan malam saja, pakai kepo urusan orang. Makan tinggal makan tidak perlu masak dan tidak perlu pikir cari duit. Radit muak dengan Desy, mama tirinya dan kedua adik tirinya yang selalu menjadi benalu di rumah ini. Seolah mereka sok menguasai rumah ini, dan sok menjadi pemilik rumah ini. Mereka tidak sadar, semua harta ini milik Bundanya, dan semua sudah di wariskan kepada Radit, bukan Ayahnya. Kalau Radit mau serakah, perusahaan yang kini di kelola Ayahnya, bisa saja di ambil alih semua oelhnya. Toh, Radit lebih mumpuni, memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari Ayahnya, lulusan luar negeri pula, dan yang jelas sepak terjang Radit sebagai pembisnis dan pengusaha itu sudah di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN