Jari-jari Ethan menari-nari dengan cepat di atas keyboard komputernya. Matanya pun sama sekali tak berpaling dari layar komputernya. Setelah melamunkan Aleana selama hampir satu jam setelah tiba di kantor, akhirnya Ethan bisa bekerja dengan serius sekarang. Tubuhnya pun bergerak seperti robot yang tak mengenal lelah. Hal itu sengaja Ethan lakukan agar otaknya tak memiliki celah untuk kembali menggalaukan Aleana. Pekerjaannya telah sangat menumpuk. Ia tak ingin pekerjaannya semakin menumpuk kalau ia terus memikirkan Aleana. Sampai tak berapa lama kemudian, dering ponsel di atas mejanya berhasil membuat perhatian Ethan teralihkan. Matanya lalu melirik ponsel tersebut. Dan tanpa membuang waktu, ia langsung menjawab panggilan yang berasal dari orang suruhannya. “Kenapa kau lama sekali meng

