Aku berjalan gontai, menapaki satu demi satu, bahkan mungkin ratusan anak tangga, hingga membawaku sampai kedepan pintu unit Apartemen. Aku sengaja membuat tubuhku lebih lelah, karena aku sangat berharap dengan lelahnya tubuhku, bisa sedikit mengalihkan rasa sakit yang kian menggerogoti hatiku. Menghela nafas lemah sebelum membuka pintu, karena aku tau, kedua lelaki itu masih berada di dalam rumahku. "Dari Mana kamu?!" Benar bukan? Abang langsung berdiri dari tempat duduknya, begitu mendengar pintu terbuka, dan aku muncul dari balik pintu. "Abang tanya, kamu dari mana? Kamu menyusul lelaki b******k itu?!" Aku masih tidak menghiraukannya, aku lebih memilih mencari gelas dan mengisinya dengan air dingin, karena tenggorokanku terasa kering. Suara derap langkah terdengar nyaring, meng