POV Silvi Aku terbangun lebih dulu pagi itu. Hari masih gelap dan subuh belum datang. Aku terbangun di dekapan hangat Mas Ibra yang membuat jantungku berlompatan tak keruan. Aku masih merasa ini seperti mimpi saja. Namun, benar, kami telah sah menjadi suami-istri sejak kemarin. Aku menikmati pemandangan indah di depanku—wajah tampan Mas Ibra. Kedua mataku menelisik setiap inci wajahnya. Ia memiliki sepasang mata yang teduh dan menentramkan. Kedua alisnya tebal dan dilengkapi dengan hidung mancung. Bibirnya yang terlihat merah dan ia tidak merokok. Ah, sempurna. "Ya ampun, Sil. Tolong kontrol jantung kamu!" Aku membatin di hatiku. Aku masih ingin mengagumi keindahan wajah suamiku, tetapi ia mendadak bergerak. Aku yang malu pun langsung menutup mataku kembali dan berpura-pura tidur. Aku