"Ahh ... kenapa silau sekali. Jam berapa sekarang?" lenguh Aryuda Perkasa ketika sinar matahari pagi menerobos masuk lewat celah gorden dan langsung menusuk matanya. Pria itu memegangi pelipisnya, merasakan kepalanya seolah dihantam batako. Efek sisa tiga gelas wiski semalam sukses membuat seluruh tubuhnya pening luar biasa.
Aryuda mencoba menggerakkan lengan kanannya yang terasa kebas dan berat. Namun, bukannya menyentuh sofa yang dingin. Kulitnya justru bersentuhan dengan permukaan halus yang terasa hangat.
Aroma harum sabun mandi lokal yang segar, langsung tercium oleh hidungnya.
Aryuda tersenyum tipis dengan mata yang masih terpejam erat. "Elisa ...? Kamu pulang cepat, Sayang?" gumamnya serak. Dalam hati, ada rasa lega yang membuncah. Ia mengira istrinya sengaja pulang diam-diam dari Milan demi memberikan kejutan manis untuknya.
Namun, begitu kelopak matanya terbuka sepenuhnya, dunia Aryuda seolah runtuh dalam sekejap.
Di atas sofa yang berantakan itu, seorang gadis sedang tertidur pulas dalam dekapannya. Napas gadis itu teratur, tetapi wajah polosnya tampak sembap dengan sisa air mata yang mengering di pipi. Pakaiannya berantakan. Gaun katun biru muda yang biasa dipakai bekerja itu bahkan robek lebar di bagian d**a karena tarikan kasarnya semalam, memperlihatkan kulit putih merona.
Aryuda melongo. Otaknya mendadak macet.
Pandangannya tertuju pada bentuk tubuh gadis sembilan belas tahun di depannya yang setengah terekspos. Sebagai suami dari seorang model papan atas, Aryuda terbiasa melihat tubuh kurus, tinggi, dan proporsional. Namun, apa yang ada di depannya ini berbeda. Tubuh Betari terawat, padat, dan memiliki lekukan alami yang sangat feminin. Sebuah pemandangan yang mendadak membuat bayangan kejadian panas semalam berputar ulang di kepala Aryuda. Sentuhan kulit mereka, desahan pasrah yang beradu dengan napas mabuknya, semua terekam jelas.
"Gusti ... apa yang sudah aku lakukan?" Aryuda mengumpat pelan, buru-buru menarik lengannya mundur hingga ia hampir terjungkal dari sofa. Jantungnya berdegup gila-gilaan, bukan lagi karena gairah, melainkan karena rasa syok yang teramat sangat.
Dia menatap telapak tangannya sendiri. Potongan ingatan semalam mulai terkumpul secara utuh. Dia mabuk, dia kesepian, dia mengira gadis ini Elisa, dan yang paling menjijikkan adalah dialah yang memaksa dan mengunci tangan gadis itu hingga tak berdaya di bawah kungkungannya.
Aryuda menyambar ponselnya yang tergeletak di kolong meja sudut. Layarnya menyala terang, menampilkan belasan panggilan tak terjawab dari istrinya.
[ 14 Missed Calls - Elisa ]
Ada satu pesan teks yang dikirim satu jam lalu: “Mas, aku telepon kok tidak diangkat? Aku cuma mau bilang, urusan di Milan selesai lebih cepat. Minggu depan aku pulang.”
"Sialan! Sial, sial, sial!" Aryuda mencengkeram rambutnya sendiri, rasanya mau gila detik itu juga.
Kepanikkan dan umpatan Aryuda rupanya mengusik tidur lelap Betari. Gadis itu melenguh pelan, kelopak matanya yang lentik perlahan terbuka. Begitu pandangannya fokus dan mendapati wajah pucat pasi Aryuda yang menatapnya dengan pandangan mengerikan, Betari langsung tersentak duduk.
"T-Tuan Aryuda ...." Suara Betari bergetar hebat.
Saat ingin bangkit berdiri, Betari baru menyadari hawa dingin yang menusuk kulit dadanya. Dia menunduk dan memekik pelan saat melihat gaun katun kesayangannya sudah sobek parah di bagian depan. Dengan panik, dia menarik celemek abu-abu yang terlepas serta bantal sofa untuk menutupi tubuhnya rapat-rapat.
Seketika itu juga, air mata Betari kembali merembes keluar. Dia meringkuk di sudut sofa, memeluk lututnya sendiri sambil menunduk dalam-dalam. Isak tangisnya mulai terdengar menyedihkan.
Atmosfer di ruangan mewah itu mendadak membeku. Aryuda yang biasanya selalu tenang, dingin, dan berwibawa di depan ratusan karyawannya, kini mendadak gagap dan kehilangan kata-kata di depan asisten rumah tangganya sendiri.
"Betari ... saya ...." Aryuda berdeham, mencoba mengatur suaranya yang mendadak tercekat di tenggorokan. "Semalam ... semalam saya benar-benar mabuk berat. Saya ... saya salah mengira kamu sebagai Elisa. Saya tidak sadar."
Betari tidak menyahut. Bahunya naik turun, menahan ledakan tangis yang mati-matian ia pendam. Dia tahu dia salah karena tidak menolak lebih keras semalam, tetapi mendengar pria yang dia puja menyebut nama wanita lain tepat setelah mengambil kesuciannya, rasanya seperti ditusuk belati tepat di jantung.
"Tuan tidak perlu menjelaskan apa-apa," bisik Betari, suaranya parau, "Saya tahu diri, Tuan. Saya cuma pembantu di rumah ini. Saya tidak punya hak untuk marah."
Mendengar kalimat pasrah itu, ada rasa bersalah yang teramat besar menghantam d**a Aryuda. Dia melihat bagaimana gadis belia itu ketakutan. Aryuda mendekat, mencoba merendahkan suaranya agar tidak terdengar mengintimidasi.
"Maafkan saya, Betari. Saya yang sepenuhnya bersalah di sini. Saya yang b******n karena memaksa kamu," ucap Aryuda dengan jantan, mengakui kebejatannya semalam. "Saya akan bertanggung jawab. Apa pun yang kamu butuhkan ... uang, tabungan, atau ... atau apa pun untuk menebus kesalahan saya semalam, saya akan penuhi. Sebutkan saja nominalnya, saya kasih. Tapi saya mohon dengan sangat ...."
Aryuda menggantung kalimatnya, menatap Betari dengan pandangan memohon yang amat sangat. "Tolong jangan sampai Elisa tahu soal ini. Pernikahan saya bisa hancur berantakan, Betari. Kamu paham maksud saya, kan?"
Betari mendongak pelan, menatap wajah pria yang selama ini dia kagumi dari kejauhan melalui layar kaca. Pria sukses yang ternyata bisa punya sisi serapuh dan setakut ini hanya karena sebuah kesalahan semalam. Betari tersenyum getir, air matanya menetes lagi mengenai bantal yang ia peluk.
"Tuan takut posisi Tuan hancur? Takut Nyonya Elisa pergi meninggalkan Tuan?" tanya Betari lirih.
"Betari, tolong mengertilah posisi saya saat ini—"
"Saya tidak akan bicara apa-apa pada Nyonya, Tuan," potong Betari cepat. "Saya tidak akan merusak rumah tangga orang yang sudah baik memberi saya pekerjaan di kota ini. Anggap saja ... anggap saja kejadian semalam tidak pernah terjadi apa-apa dalam hidup kita."
Aryuda tertegun melihat kedewasaan sekaligus kepasrahan Betari. Namun, saat matanya kembali tidak sengaja melirik bahu Betari yang terekspos di balik sobekan gaunnya, gairah sisa semalam yang aneh kembali menggelitik benaknya. Sial, kulit gadis itu terlalu menggoda. Aryuda buru-buru membuang muka ke arah lain, merutuki pikirannya sendiri yang mendadak jadi sekotor itu di situasi genting.
Sebelum mereka sempat menyelesaikan pembicaraan pelik itu, sebuah suara cempreng dari arah dapur belakang mendadak memecah ketegangan di antara mereka.
"Iwak peyek ... Iwak peyek ... Iwak peyek sego jagung ... Sampek tuek, sampe nenek ... Pak Aryuda tetap kusanjung ...."
Suara sandal jepit yang beradu keras dengan lantai marmer terdengar berjalan mendekat, diiringi suara senandung pelan khas orang tua yang salah lirik. Itu suara Mbok Sum, kepala pelayan di rumah itu.
"Betari? Kamu di mana, Nduk? Kok jam segini belum numbuk kopi buat Pak Aryuda? Biasanya jam enam subuh kamu sudah mondar-mandir di dapur," panggil Mbok Sum dari balik sekat ruang tengah. Suaranya makin lama makin jelas, menandakan langkah kakinya bergerak cepat menuju ruang keluarga.
Mata Aryuda dan Betari seketika membelalak lebar. Kepanikan tingkat dewa langsung menyerang mereka berdua tanpa ampun.
"T-Tuan ... Mbok Sum ...." Betari panik setengah mati. Dia tidak bisa lari ke kamar belakang karena gaunnya robek dan posisinya sekarang masih berada di atas sofa bersama Aryuda. Jika Mbok Sum melihat ini, tamatlah riwayat mereka.
"Sstt! Diam di situ, jangan bersuara!" bisik Aryuda panik, keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya.
Dengan cepat, Aryuda langsung menyambar jas hitam mahalnya yang tergeletak di lantai, lalu melemparkannya ke tubuh Betari.
"Pakai ini! Sembunyi di belakang sofa, cepat!" perintah Aryuda setengah berbisik dengan nada mendesak.
Betari dengan cekatan memakai jas besar milik Aryuda, mengancingkannya asal-asalan untuk menutupi gaunnya yang rusak, lalu berguling turun dari sofa. Ia segera bersembunyi di celah sempit antara bagian belakang sofa kulit dan dinding ruang tengah.
Tepat setelah ujung kaki Betari menghilang dari pandangan, kepala Mbok Sum muncul dari balik pilar ruang keluarga dengan handuk kecil di pundaknya.
"Lho, Pak Aryuda? Sudah bangun, Tuan?" Mbok Sum terkejut melihat majikannya sudah duduk tegak di sofa dengan kemeja yang luar biasa kusut dan rambut berantakan mirip singa. Mata tua Mbok Sum kemudian menyapu seisi ruangan, mencari-cari sesuatu yang janggal. "Tuan lihat Betari? Dari tadi saya cari di kamarnya tidak ada, di bilik cuci juga nggak ada. Anak itu ke mana ya, kok tumben teledor sekali jam segini belum kelihatan batang hidungnya."
Aryuda menelan ludahnya yang terasa kering. Jantungnya berdegup luar biasa kencang, sementara di belakang sofa tempatnya bersandar, Betari sedang menahan napas sambil membekap mulutnya sendiri rapat-rapat agar suara isak tangisnya ttidak lolos sedikit pun.
"Ah ... itu, Mbok ...." Aryuda mencoba tersenyum senormal mungkin. "Betari tadi ... tadi saya suruh ...."