Boss Sialan

1031 Kata
"Jadi, sudah berapa lama?" Pertanyaan ambigu yang langsung dilontarkan mama Rey kepada anak semata wayangnya dan juga Ana yang duduk di sofa berhadapan dengannya. Sementara Rey duduk di sofa single yang ada di sebelah kiri. Mama Rey menaikkan alisnya, menatap Rey dan Ana secara bergantian ketika keduanya sama-sama memilih tetap bungkam. "Jadi, kalian ... sering melakukannya?" Kembali tuduhan menohok dilontarkannya. "Wah, jadi sudah sering sekali ya?" Mengambil kesimpulan sendiri atas apa yang disaksikannya beberapa saat lalu. "Enggak nyonya! Anda salah paham! Kami tidak melakukan apa-apa, ini cuma salah paham." Ana spontan menggeleng, menyelamatkan diri dari kesalahpahaman mama Rey. Ia tidak mau jika nyonya Renata semakin berpikiran yang tidak-tidak tentang dirinya dan Rey, atasannya yang sama sekali tidak melakukan pembelaan apa pun sejak tadi. Nyebelin emang! Melihat reaksi Ana, mama Rey nampak heran. Ia menaikkan satu alisnya, menatap seksama wanita itu yang terlihat sangat gugup. Dari raut wajahnya yang cantik, tampak gurat ketakutan saat menatap dirinya. Apakah dirinya semenyeramkan itu? "Enggak salah lagi," sahut mama Rey yang semakin membuat Ana tampak kalang kabut. "Sumpah Nyonya! Kami nggak ngapa-ngapain tadi," Ana benar-benar panik, hingga kesulitan merangkai kelimat untuk meyakinkan mama atasannya itu. Sementara bosnya, malah terlihat santai dan cuek sekali. Rasanya Ana ingin sekali menghantam kepala Rey dengan palu Thor. Kenapa jadi harus Ana yang mati-matian menjelaskan, sedangkan kesalahpahaman ini terjadi gara-gara ulah bosnya? Ana tidak habis pikir, bisa-bisanya Rey tidak melakukan pembelaan sama sekali, seolah membiarkan mamanya terus salah paham dan menuduhkan hal-hal yang sama sekali tidak terjadi di antara mereka berdua "Saya sama pak Rey, em ... kami nggak ngelakuin apa-apa tadi. Itu cuma-" "Cuma apa, Ana?" sergah mama Rey, menciutkan nyali Ana. "Yang saya lihat tadi semuanya jelas kok, kalau kalian ini ...." Mama Rey melirik putranya, sembari mengulas senyum penuh arti. "Nggak perlu saya jelaskan, kita sama-sama tahu apa yang terjadi, 'kan?" Rey mengembuskan napas kasar, akhirnya buka suara menyudahi kesalahpahaman mamanya. "Apa yang mama lihat, nggak seperti apa yang mama pikirkan," terangnya, meluruskan kesalahpahaman mamanya. "Kami nggak ngelakuin apa pun yang seperti Mama pikirkan." "Masa?" Mamanya memicingkan pandangannya kepada Rey, seakan menegaskan keraguannya akan jawaban Rey barusan. "Orang jelas-jelas kamu tadi-" "Ma," potong Rey, memutar bola mata malas. Sejujurnya ia malas harus menjelaskan hal yang menurutnya tidak penting. Tapi melihat mamanya berpikiran terlalu jauh soal dirinya dan Ana tadi, tentu saja Rey harus meluruskan atau mamanya akan semakin berpikiran yang macam-macam. "Aku cuma bantuin Ana, tadi antingnya nyangkut di gaunnya, makanya Rey coba bantu lepasin." Ana refleks menoleh kepada bosnya, tidak menyangka kalau atasannya itu akan mengarang cerita untuk menyudahi kesalahpahaman mamanya. "Bener 'kan, Ana?" Rey beralih menatap Ana, mengkode lewat sorot matanya agar Ana mengiyakan. Tapi Ana terlalu lambat menangkap sinyal yang ia kirim, hingga Rey begitu geregetan dan melototi Ana. "Saya cuma bantuin kamu aja tadi, nggak lebih?" ulang Rey, sorot matanya menajam. Seolah sedang meneriaki Ana agar segera mengiyakan. "Eh-iiya!" Ana langsung mengiyakan, tersenyum lebar. Senyum penuh paksaan. Bos sialan, ngapain sih pakai acara melotot segala! Tuh mata rasanya pengen gue culek! Mama Rey menghela napas, meski terlihat belum juga puas dengan alibi Rey. Namun, beliau tidak lagi mempermasalahkan. "Ngomong-ngomong kalian mau ke mana?" tanya mama Rey kemudian, menyadari penampilan Ana dan Rey yang begitu rapi. "Ngedate?" Astaga! Rey mengusap kasar wajahnya, sedangkan Ana kian menunduk dalam, memejamkan mata sembari berkomat-kamit. Ngedate? Sama bos alay, narsis, galak, nyebelin ini? Yang bener saja! Sorry ye, gue nggak mau! batin Ana. "Apaan sih, Ma? Siapa juga yang mau ngedate," Rey menghela napas kasar, tidak habis pikir dengan pertanyaan yang dilontarkan mamanya. "Mama lupa? Hari ini ada pesta perayaan anniversary pernikahan pak Hutomo, papa minta aku yang mewakilkan karena papa katanya mau ngedate sama mama." Mama Rey tersenyum malu-malu. "Oh iya, mama lupa. Acaranya hari ini ya. Maaf ya, karena mama pengen jalan-jalan ke puncak, kamu jadi musti meluangkan waktu weekend kamu buat gantiin papa." Rey hanya bergumam, enggan menyahut panjang lebar. "Terus, kenapa Ana juga ikut?" tanya mama Rey. "Ya, karena Rey nggak mau dateng sendirian. Rey butuh patner buat ke sana," jawab Rey. Ana melirik sinis Rey, dalam hati berteriak. Bilang aja karena jomlo, jadi nggak punya pasangan buat diajak ke sana! "Makanya punya pacar Rey, jadi kamu bisa ajak pacar kamu buat jadi patner, bukan malah nyusahin Ana mulu," cetus mama Rey, mengulti anaknya sendiri. "Kasian Ana, harusnya dia sedang menikmati hari liburnya, tapi malah musti lembur nemenin kamu." Bener banget tuh! Ana menyahut dalam hati. Meski sangat ingin meneriakkannya pada Rey, tapi bibirnya tidak bernyali. Ganggu waktu libur gue aja! Emang dasar bos rese, nyebelin, arrrggghhh! "Sudah jadi resikonya, lagian Rey juga bayar mahal buat lemburannya, setimpal buat gantiin weekend-nya." Rey tetap tidak mau merasa bersalah, apalagi disalahkan. Merasa jika yang dilakukannya wajar, apalagi Ana mendapat bayaran lembur yang fantastis, setengah dari gajinya per sekali lembur begini. "Terus, kamu suruh Ana ke pesta pakai baju begini?" Mama Rey geleng-geleng kepala melihat gaun yang Ana pakai saat ini. Gaun panjang merah menyala tanpa lengan, bertali spageti, dengan belahan d**a rendah. Sejujurnya Ana mirip sosis goreng dengan balutan gaun tersebut, meski cukup indah karena lekukan tubuhnya yang sempurna. "Apa ada yang salah dengan gaunnya?" Rey balik bertanya. "Gaunnya bagus, limited edition lagi. Cocok juga dipakai sama Ana, pas di badannya." "Tapi terlalu terbuka Rey," komentar mama Rey, menyoroti gaun berbelahan d**a rendah yang Ana kenakan. "Apa kamu nyaman dengan gaun itu, Ana?" Lalu bertanya pada Ana. Ana melirik sekilas bosnya, sebelum kembali beradu tatap dengan mama Rey. Ia tampak ragu untuk menjawab, tapi bukankah tidak apa jika Ana kali ini berkata jujur. Ana menggeleng pelan, ya sejujurnya Ana tidak nyaman dengan gaun yang dikenakannya. Bahkan untuk kesekian kali Ana membenarkan tali gaun yang melorot dari bahunya. "Kamu lihat sendiri Rey? Ana tidak nyaman dan kamu paksa Ana pakai gaun begituan?" omel mama Rey, tidak suka dengan yang dilakukan anaknya. Rey yang merasa tidak memaksa pun sontak menyanggah. "Rey nggak pernah paksa Ana, mama. Ana sendiri tidak keberatan, bener 'kan, Ana? Saya tidak memaksa kamu." Ana sontak melotot, menatap horor Rey. Ini manusia bener-bener minta disantet. Dan tanpa rasa bersalah Rey kembali mengulang kata-katanya. "Bener 'kan, Ana?" Ya Allah, tolong kutuk bos hamba jadi kodok! Ana ingin sekali memaki bosnya, tapi apa daya ia tidak mampu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN