Eunha sudah menunggu sambil sesekali melirik keluar untuk memeriksa kehadiran sang dokter. Devan dibaringkan di sana. Arka masih terus memantau. "Dia masih sulit bernapas, Eunha. Napasnya putus-putus." Eunha semakin cemas. Dia menaiki kasur dan duduk tepat di sisi kepala Devan. Menunjukkan kecemasan tanpa sengaja. "Dia punya masalah pernapasan kayak lo juga, Ka?" Arka menggeleng, terus memijat sisi bagian belakang telinga Devan agar bisa segera sadar. "Nggak. Mungkin karena efek volume udara dan debu aja. Berapa lama kalian di dalam?" Eunha meraih tangan Devan. Tak peduli Arka akan mengetahuinya atau tidak, dia tetap menggenggam tangan kekasih hatinya itu. "Nggak nyampe lima belas menit. Tadi gue pengen nyari buku di gudang, dia juga nyari sesuatu di sana. Tiba-tiba aja pintunya ter

