Pukul 15:30 sore. Kerja di gudang Pak Junaedi selesai lebih cepat dari perkiraan. Atap seng baru sudah terpasang rapi, tak ada lagi bocor. Revan turun dari tangga dengan keringat bercucuran, kaos basah lengket di badan, tapi wajahnya menunjukkan kepuasan mendalam. Pak Junaedi memeriksa hasil kerja dari bawah, angguk-angguk senang. “Bagus banget, Van! Rapi sekali. Aku puas. Ini uangnya lima puluh ribu, plus bonus sepuluh ribu karena cepat dan bagus. Makan malam juga aku bungkusin nasi sama lauk ayam goreng buat kalian bertiga di rumah.” Revan nyengir lebar, mengambil uang dan bungkusan makanan dengan tangan hormat. “Alhamdulillah, Pak. Terima kasih banyak. Senang bisa bantu.” Pak Junaedi menepuk pundak Revan lagi. “Kapan-kapan kalau ada kerjaan lagi, aku panggil lo, ya. Anak rajin kay

