Bab 15 - kericuhan Desa

1098 Kata

Adzan Subuh memecah keheningan Desa Gadita. Bagi Revan, ini adalah momen penenang, pembersihan dosa dari malam yang penuh godaan. Ia segera bangkit dari ranjang kayunya yang reot. Rasa lega karena Ayu telah menghilang semalam tidak bertahan lama, sebab dosa lain, dosa visual, menanti di rumahnya sendiri. Revan beranjak menuju tempat wudhu. Air dingin membasuh wajahnya, ia mencoba mengusir sisa-sisa hasrat yang ditinggalkan Dewi Ayu. Selesai wudhu, Revan kembali ke ruang tengah. Revan: (Gumamnya dalam hati) "Fokus, Revan. Lawan. Jangan sampai pikiran kotor itu kembali." Sebelum membentangkan sajadah, Revan melirik ke kamar adiknya. Ia ingin memastikan Cici, Vita, dan Sari baik-baik saja dan tidak diganggu oleh Ayu dalam tidurnya. Revan: (Gumamnya dalam hati) "Aman. Mereka tidur nyenyak.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN