Farah mendengar suara batuk dari kamar Faiz. Cepat ia bangun, dan ke luar dari kamarnya, untuk melihat keadaan Faiz. Pintu kamar Faiz memang tidak terkunci, karena tadi ia yang menutupnya sebelum tidur. "Mas, minum dulu, harusnya tadi aku panggil dokter Hari." Farah duduk di tepi ranjang, Faiz bangun dari berbaring, diambil gelas berisi air putih di tangan Farah. Setelah di teguknya hingga habis, ia kembali berbaring. "Aku tidak apa-apa, Farah, maaf sudah mengganggu tidurmu, kembalilah ke kamarmu, dan tidurlah lagi." Faiz kembali memejamkan matanya. Tanpa terasa air mata Farah jatuh di pipi, ia belum beranjak dari duduknya. Faiz membuka mata, pandangannya langsung tertuju pada wajah Farah, yang bersimbah air mata. "Kenapa menangis, Farah? Apa ada ucapanku yang salah dan menyakiti hat