Nayla mematung di tempatnya berpijak, matanya lekat menatap punggung Arman. Ah, tidak! Dia tidak akan membiarkan hatinya menaruh kasihan pada lelaki itu. Nayla kembali melangkah masuk ke dalam lift. Di ketiknya sebuah pesan singkat di ponsel, lalu mengirimnya pada Arman. Arman berkacak pinggang di depan satpam, kesal. Tapi dia tahu, satpam itu hanya menjalankan tugas. “Maaf, Pak! Saya hanya menjalankan tugas.” Ujar satpam itu sedikit membungkuk. “Huff,” Arman menghela napas, lalu menoleh ke arah pintu lift, berharap Nayla muncul dan menemuinya. Tapi Sayang, bayangan wanita pujaannya tidak terlihat di sana. Arman terskesiap saat ponselnya bergetar di saku celana. Bergegas ia meraih dan membaca pesan yang masuk. [Tinggalkan saja kunci mobilnya di post satpam, nanti aku ambil.] “Huff,”

