Part 106

2073 Kata

“Nay, ibu kenapa?” tanya Arman menghampiri. “Entahlah, Mas. Dokter sedang mengobservasinya.” Ujar Nayla cemas. “Kenapa ibumu Arman?” tanya opa yang tergopoh-gopoh mengejar Arman. “Belum tahu, Pa. Dokter sedang memeriksanya.” Jawabnya tak kalah cemas dengan Nayla. Nayla menatap Arman lekat. Banyak yang ingin dia tanyakan pada lelaki di depannya itu. Tapi tidak sekarang, tidak di tempat ini. “Huff …” Nayla menghela napas dalam. Matanya menatap langit-langit atap rumah sakit, menahan diri untuk tidak bertanya ini itu. Arman berjalan mendekati ibu yang masih terbaring lemah, matanya terpejam dengan selang oksigen di hidung. “Ibu …. Kumohon, bangun, bu …” bisik Arman pelan. Ditatapnya jemari wanita paruh baya itu. ingin di sentuhnya dan diciumnya jemari itu. Hal yang selalu ia rindukan,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN