Arman berjalan cepat ke mobil. Mentari sudah tenggelam, langit sudah hitam, rembulan tidak tampak menggantung di sana. Ditolehnya arloji di tangan yang kini sudah menunjuk angka dua belas. Ia sedikit bergesar saat papa menyusulnya masuk ke dalam mobil. Mata papa tajam melirik Arman yang tanpa ekspresi duduk di sampingnya. Bagaimana bisa lelaki kecilnya itu bersikap seperti ini? Arman banyak berubah sejak menikah dengan Nayla, ia tidak lagi focus pada pekerjaannya di kantor. “Jadilah pemimpin sejati dengan tidak mudah dikendalikan,” Ujar opa menatap lurus ke depan. Arman diam seribu Bahasa, tidak yakin dengan keputusan apa yang harus dia ambil. Ia harus mendiskusikannya dahulu dengan Nayla, apapun nanti keputusannya, itu adalah keputusan Bersama. Mobil melaju cepat di bawah cahaya la

