LAV tahu, rumah yang Lion maksud pastilah apartemennya. Dia tidak mungkin mengharapkan seorang Lion membeli rumah dan tinggal berdua dengan Aksa di sana. Hal itu sangat mustahil terjadi, mengingat mereka tidak terlalu akur dulu. Lion meletakkan koper di dekat pintu masuk. "Sebentar," katanya, sebelum melesat memasuki sebuah ruang kamar yang ia yakini adalah kamar Lion di sini. Rex menarik-narik kaus yang Lav gunakan. Wanita itu lantas menatap putranya yang juga tengah menatapnya dengan wajah khas—ketika dia ingin tahu sesuatu. Matanya membulat, sedang dahinya yang mengernyit terlihat lucu. "Iya?" Lav berjongkok agar tingginya bisa sejajar dengan putranya. "Ini bener rumah om itu, Ma?" Lav mengangguk. "Bagus, Ma, tapi sayang nggak segede balai desa." Lav terkikik geli mendengar. Memang