Acatia menghela napasnya lelah. Ia menatap langit-langit kamar bermodern mewah dengan kagum. Setelah, sampai dirumah atau lebih tepatnya mansion mewah berlantai tiga ini, Acatia langsung disambut hangat oleh Athila dan Alona. Sedangkan Atreo sedang dibekerja memantau perusahaan yang kini Allastair jalankan. Tidak sering memang, namun Atreo terkadang bosan jika hanya duduk diam dirumah. Yang paling Acatia syukuri ialah Athan yang tidak tinggal dirumah ini seperti yang Athila katakan padanya tempo hari. Mereka benar-benar tinggal jauh dari orangtua. Termasuk Avram.
Tok. Tok. Tok.
"Ya?" Acatia menyahut dari dalam. Beranjak dari tempat tidur dan langsung membuka pintu mendapati pembantu rumah tangga bernama Jenath sedang tersenyum padanya.
"Adakah yang bisa saya bantu untuk merapikan baju?"
Acatia menggeleng pelan. "Tidak, Jenath. Terimakasih." Ya, Acatia sudah diperkenalkan pada pelayan di mansion ini satu persatu. Tidak terlalu ramai sehingga Jenath mudah mengingatnya.
"Baiklah. Jika ada apa-apa hubungi saya melalui telepon dikamar anda."
Acatia mengangguk patuh lalu sekiranya punggung Jenath menjauh, dia segera menutup pintu untuk membersihkan badannya. Lalu, beristirahat dengan nyaman hingga esok pagi karena Acatia harus ke rumah sakit untuk pengenalan dirinya.
***
Athan menatap Pria di depannya dengan pandangan malas. Baru saja dia hendak mengistirahatkan dirinya dengan kembali ke apartemen, tapi didapatinya seseorang sedang menunggu di depan apartemennya dengan wajah tersenyum lebar. Membuat Athan tidak sabar untuk menanggalkan sepatunya dan melemparkan ke wajah sialannya yang lumayan tampan itu.
"Kau sudah kembali." Itu pernyataan tanpa minat dari Athan.
Pria itu masih mengenakan kemeja biru pucat yang dipakainya saat berangkat dari LA. Bahkan, ia menggiring kopernya ke apartemen sahabatnya ini bermaksud menumpang seketika. "Apa kau tidak merindukanku? Ah, padahal aku sangat merindukanmu, bro."
"Tidak sekalipun." Sahut Athan singkat lalu membuka password apartemennya. Ia masuk begitu saja tanpa menyuruh sang sahabat ikutan masuk. Menurutnya sahabat tidak tahu diri itu bahkan akan menginap tanpa tahu malu walau sang pemilik tidak mengizinkannya. Oh, ingatkan Athan untuk tidak berjumpa dengan Pria ini lagi dimasa reinkarnasinya kelak.
"Kau tidak menawariku minum?" Protes Samuel melihat Athan yang langsung masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan sahabatnya itu.
"Tidak!" Sahutnya singkat membuat Samuel langsung berinisiatif untuk mengambil minuman sendiri dari kulkas. Pria yang bekerja sebagai dokter di divisi kardiovaskular itu baru saja dimutasi dari LA ke London. Dirinya memang asli London, namun pekerjaan yang membuatnya harus ke LA dan menetap selama lima tahun disana.
Samuel berdecak melihat isi kulkas milik Athan yang dipenuhi dengan air mineral."What? No alcohol?"
"Aku tidak mengkonsumsinya karena pekerjaanku membutuhkanku dalam keadaan sehat. Jika kau ingin, kau bisa angkat kaki dari sini dan pergilah ke club. Disana akan ada banyak alkohol yang menantimu!"
Athan tiba-tiba kembali karena ia melupakan tas kerjanya dan mendengar gerutuan temannya. Lalu, berbalik lagi ke kamar dan tak lama, terdengar suara shower yang mengucur deras dari kamar mandi, menandakan bahwa Pria itu sedang mandi.
Mau tak mau, Sam mengambil air mineral dan langsung meneguknya hingga habis tak bersisa. Setidaknya, ada yang mengaliri tenggorokannya yang kering. Melepas dahaga lebih baik daripada tidak sama sekali.
Beberapa saat, setelah menunggu. Akhirnya Athan keluar dengan kaos oblong berwarna putih dan celana pendeknya yang biasa digunakan ketika dirumah. Ia menghampiri Samuel yang kini duduk disofa. Menatap temannya seolah mengulitinya hidup-hidup. Meminta penjelasan Samuel atas kehadirannya yang tiba-tiba.
Samuel menghela napas panjangnya. "Aku dimutasi kemari. Bahkan, aku belum pulang ke rumah orangtuaku yang sudah sibuk menjodohkanku dengan gadis pilihan Mama. Makanya aku memilih untuk menginap di apartemenmu. Ayolah, hanya semalam dan aku berjanji besok akan mencari apartemen lain.."
"Semalam, Samuel karena aku tidak suka ada orang lain masuk ke kediamanku."
"Yes, cold prince!" Balas Samuel yang sebenarnya jengah karena sikap Athan tak berubah sejak ditinggal oleh kekasihnya bernama Zee. Lagipula, Sam sengaja memanggil begitu karena dulu ketika Senior high School, Athan dijuluki cold prince dan itu melekat hingga sekarang.
"Masuklah dan bersihkan tubuhmu, Sam. Aku tidak ingin kumanmu lengket di apartemenku. Padahal kau sorang dokter, apa para pasien mempercayai dirinya padamu? Mengingat kelakuanmu seperti ini?" Ejek Athan membuat Samuel mendelik.
"s****n!!" Maki Samuel yang hanya ditanggapi wajah datar oleh Athan. Ia hendak beranjak ke kamar yang Athan tunjukkan, namun langkahnya lebih dulu berhenti karena pertanyaan yang Athan lontarkan.
"Kau dimutasi ke rumah sakit mana?"
"Rumah sakit milik mantanmu. Lyzeea Goulna Breteda."
Athan terkesiap mendengar nama Zee, mantannya sekaligus gadis kecilnya. Menatap Samuel dengan pandangan menyipit tajam. "Apa kau menerima laporan dari negara mana saja orang yang dimutasi ke rumah sakit itu?" Bukannya tidak bermaksud Athan menanyakan ini, karena dirinya memastika bahwa Acatia tidak termasuk di dalamnya.
"Sayangnya aku tidak tau apapun mengenai itu, Uistean."
Athan menghela napasnya pelan. Bagaimana keadaan gadis itu? Apakah dia sudah berangkat? Aarrggh.. Athan bisa gila jika terlalu lama memikirkan Acatia. Dirinya harus melupakan Acatia, ia tahu mungkin ini hanyalah perasaan sesaatnya karena merasa penasaran dengan gadis yang bahkan tak jatuh pada pesonanya. Ya, Athan yakin jika ini hanya perasaan sesaatnya saja.
***