“Ayo turun, kalau begitu,” ajak Adrian. “Ya, Mas.” Sari kemudian turun dengan hati-hati, dibantu oleh Adrian, dan mereka berjalan berpelukan menuju lobi apartemen. Mereka mengira anak-anak mereka sudah pergi ke tempat lain, tapi ternyata Karan dan Rainer sedang duduk di sofa ruang tamu, terlihat seperti sedang menghindari sesuatu. “Rain, Karan, kalian berdua ada di sini?” tanya Adrian, sedikit terkejut. Rainer langsung menoleh. Matanya tanpa sengaja jatuh pada da-da Sari yang masih terlihat setengah terbuka meski sudah ditutupi tangan. Pipinya langsung memerah, dan dia cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke lantai, mengira itu adalah ulah Adrian yang tidak sabaran. “Iya, Ayah,” jawab Rainer, berusaha terdengar normal. “Barang-barangku juga belum semua kubawa ke sini. Mungkin besok b

