Alisya membuka matanya yang terasa berat, menatap ke arah tangannya yang terasa mati rasa karena tertindih oleh sesuatu, Alisya tahu jika yang tengah menungguinya itu tengah tidur saat menunggu dirinya, dan tentu saja tebakannya di perkuat karena tak merasakan gerakan atau suara yang dia keluarkan untuk menyambut kesadarannya. Terdiam, Alisya tak berani bergerak, takut membangunkan siapa saja yang tengah menungguinya, meskipun di kepala Alisya hanya ada nama Gerald yang sudah pasti menunggunya saat ini. Jujur saja, jika mengingat kegiatan Gerald dan Citra, Alisya tak bisa menerimanya dengan hati yang lapang, bahkan Alisya tak sanggup untuk terus berada di samping laki-laki itu lagi saat ini, membayangkan harus berbagi suami dan laki-laki yang sama tentu saja membuat Alisya berpikiran yan