Hari sudah menjelang sore saat aku tiba di rumah yang tampak begitu lengang. Bagaimana tidak lengang kalau sekarang hanya aku dan Freya yang tinggal di sini. Nanti kalau kedua orang tua Freya sudah kembali dari Singapura dan kaki Cello sembuh pasti rumah ini akan lebih ramai. Senyumku seketika merekah lebar saat menemukan ayunan bayi yang masih baru di depan televisi ruang tengah. Ada juga beberapa mainan dan pakaian bayi tergeletak di atas meja. Bagi yang tidak tahu pasti mengira kalau kami memang sudah punya anak bayi. Pemandangan yang aku lihat di dalam kamar tak urung membuat hatiku menghangat. Freya tampak sedang tertidur di samping Zehan yang juga terlelap pulas di atas tempat tidur kami. Untuk beberapa lama aku tidak bisa mengalihkan mataku dari mereka berdua, rasanya aneh tapi sa