“Bibi,” panggil Amira pelan dari ambang dapur. Wina yang sedang mengaduk sup di atas kompor menoleh. Begitu melihat Amira berdiri di sana, ia langsung tersenyum lembut. Sendok sayur di tangannya ia letakkan di tepi panci sebelum mematikan api kecil di bawahnya. “Gimana keadaanmu, Nona?” tanya Wina dengan suara hangat. “Sudah agak membaik?” Amira mengangguk kecil. Wajahnya terlihat lebih tenang dibanding kemarin, meski masih ada sisa lelah di matanya. Ia melangkah mendekat, lalu berhenti sejenak, ragu. Rasa bersalah perlahan menyusup. Kejadian kemarin terus terulang di kepalanya—reaksinya yang berlebihan, wajah terkejut Dimas, dan keheningan yang canggung setelahnya. “Aku…” Amira menarik napas. “Maaf soal yang kemarin,” ucapnya akhirnya, suaranya lirih. “Aku nggak bermaksud bikin semua

