Bab 6

1011 Kata

Amira perlahan membuka mata. Tatapan mereka bertemu, dan beberapa detik kemudian ia tersadar akan posisinya. Dengan refleks, Amira segera berdiri, sedikit kikuk. Ia merasa tidak enak—tubuhnya pasti terasa berat. “Maaf,” ucapnya pelan. Dimas menggeleng kecil, lalu tersenyum menenangkan. “Nggak apa-apa. Aku tadi cuma mau periksa luka kamu,” katanya lembut. “Untungnya masih aman. Tapi kamu tetap harus hati-hati, jangan sampai berdarah lagi.” Amira baru teringat. Ia mengangkat tangannya dan menyentuh pelipisnya dengan sangat hati-hati. “Sekarang sudah waktunya makan malam. Bibi Wina sudah selesai menyiapkan makan malam buat kita. Ayo ke ruang makan.” Amira segera mengikuti Dimas yang berjalan lebih dulu di depannya. Mereka melangkah menuju ruang makan yang luas dan tampak mewah. Begitu s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN