Di meja teras belakang, rangkaian bunga mereka hampir selesai. Mawar merah muda, krisan putih, dan lavender tertata cantik di vas kaca kecil. Amira menekan kelopak mawar terakhir, sementara Dimas membantu merapikan tangkainya. “Kayaknya tinggal sedikit lagi,” ucap Amira sambil menatap vas itu dengan bangga. Dimas mengangguk. “Iya, hasil kerja kita bagus juga.” Ia meraih satu tangkai mawar lagi untuk mempercantik bagian samping. Namun saat menekan batangnya, sebuah duri yang tersembunyi mengenai jarinya. “Ah…” desisnya kecil. Amira langsung menoleh. “Mas?” Wajahnya berubah panik saat melihat setitik darah muncul di ujung jari Dimas. “Mas luka?!” Dimas tersenyum tenang. “Cuma duri kecil, sayang. Nggak apa-apa.” “Nggak apa-apa gimana? Ini berdarah!” Amira langsung berdiri. “Winaaa! To

