Keesokan harinya, suasana di kantor Dimas terasa lebih serius dari biasanya. Setelah memastikan jadwal pagi berjalan lancar, Raka mengetuk pintu ruang kerja Dimas dan masuk dengan sikap tenang. “Permisi, Pak. Ada laporan penting yang perlu saya sampaikan,” ujarnya. Dimas mengangguk. “Silakan.” Raka membuka tablet di tangannya. “Terkait isu yang kemarin sempat sempat saya sampaikan ke Bapak… pagi ini skalanya meningkat. Percakapan tentang Bapak mulai meluas, tidak hanya di lingkungan internal, tapi juga ke luar.” Dimas menyandarkan punggungnya. “Sejauh apa?” “Beberapa forum, grup profesional, dan akun gosip sudah mengangkatnya, Pak,” jawab Raka lugas. “Narasinya mulai menyimpang dan merugikan. Fokus pemberitaan sebagian besar diarahkan kepada nona Amira.” Dimas terdiam. “Bahasanya cu

