Bab 7 - Negosiasi

1954 Kata
Obrolan Revina dan Tristan berhenti saat mobil yang Revina kemudikan sudah tiba di Calestia Tower, apartemen di mana salah satu unitnya menjadi tempat tinggal Revina dan konyolnya Tristan ikut-ikutan tinggal di situ juga. “Kamu boleh turun,” ucap Tristan. Revina pun mengernyit. “A-apa?” “Tadi saya bilang mau ganti kemeja dulu, kan? Setelah itu kita ke kantor bareng-bareng,” ucap Tristan. “Sekarang saya berubah pikiran. Saya ke kantornya nanti aja. Jadi, kamu bisa naik taksi dari sini,” sambungnya. “Atau kamu mau naik mobil saya? Silakan kalau mau,” kata Tristan lagi. “Enggak perlu. Saya pamit kalau begitu,” jawab Revina yang mulai bersiap untuk turun dari mobil Tristan. Tristan sebenarnya tidak benar-benar ingin ke kantor. Ia hanya menggunakan alasan itu agar Revina bersedia mengemudikan mobil lalu Tristan sengaja menunjukkan kalau dirinya tinggal di Calestia Tower juga. Sungguh, sebagai permulaan ia ingin membuat Revina sedikit terusik. Saat ini Revina sudah turun dari mobil dan perlahan mulai menghilang dari pandangan Tristan. Memang benar, semua yang terjadi bukanlah sebuah kebetulan, melainkan kesengajaan. Apa yang Revina katakan memang masuk akal bahwa ... mana ada kebetulan yang sangat detail seperti ini? Tentang Tristan yang mendadak menggantikan Bu Yuyun, juga tentang Tristan yang konyolnya tinggal di apartemen yang sama dengan yang Revina tempati. Sejak awal Revina sudah menduga kalau itu bukan kebetulan dan itu benar. Tristan memang sengaja menempatkan dirinya berada di dekat wanita itu. Setelah bertemu Revina untuk pertama kalinya di rumah orangtua Hans, semenjak saat itu Tristan sudah mulai menyusun strategi tentang bagaimana dirinya bisa dekat dengan wanita itu lagi. Sampai kemudian ia menemukan cara jitu—tinggal di apartemen yang sama sekaligus menjadi atasan langsung wanita itu. Menurut Tristan ... dua hal itu adalah combo yang sempurna. Tristan tahu dirinya gila, bisa-bisanya tanpa ragu ingin memikat Revina padahal ia tahu wanita itu kini berstatus pacar dari keponakannya. Namun, ia tak mau menyesal lantaran kehilangan wanita itu lagi. Untuk itu, Tristan akan mengesampingkan fakta kalau Revina adalah pacar Hans. Ia akan berusaha memikat Revina lagi bagaimana pun caranya. Memikat Revina di sini dalam artian membuat wanita itu jatuh cinta padanya sehingga hubungan Revina dengan Hans menjadi kacau. Setelah itu, Tristan akan memberikan tepuk tangan paling meriah karena upayanya berhasil. Menurutnya, Revina harus diberi pelajaran. Dulu, wanita itu meninggalkannya begitu saja dan sekarang ... Tristan ingin melihat Revina ditinggalkan oleh Hans. “Kamu harus bertekuk lutut padaku, seperti aku bertekuk lutut padamu delapan tahun lalu,” batin Tristan. “Setelah kamu tergila-gila padaku, aku juga akan melakukan hal yang sama—meninggalkanmu,” sambungnya, masih dalam hati. Menurut Tristan, Revina harus tahu bagaimana rasanya ditinggalkan saat sedang sayang-sayangnya. Balas dendam? Anggap saja begitu. Meski Tristan tak bisa memungkiri ia masih berdebar hebat saat melihat Revina, bedanya ada luka yang menganga di hatinya. Luka yang Revina ciptakan saat memilih uang dan meninggalkannya begitu saja. Tristan tahu Revina mendapatkan uang dari ibunya sebagai imbalan meninggalkannya dan itu merupakan hal yang paling membuat Tristan sangat kecewa. *** Bekerja sama dengan baik? Revina ragu dirinya bisa melakukannya jika bosnya adalah Tristan. Itu sebabnya ia tanpa ragu langsung kepikiran tentang resign, hal yang tak pernah ia bayangkan semenjak bergabung dengan Golden Bite. Revina sungguh tak mengerti, dari sekian banyak manusia ... kenapa harus Tristan? Taksi terus melaju, membawa Revina ke salah satu kantor cabang Golden Bite yang menjadi tempat dirinya mencari nafkah selama ini. Tiba-tiba ponsel Revina bergetar tanda ada panggilan masuk. Ia merogoh isi tasnya untuk menemukan ponselnya. Bu Yuyun memanggil.... Tanpa ragu Revina mengangkatnya. “Rev, kamu udah nyampe kantor?” “Belum, Bu. Masih di taksi,” jawab Revina. “Udah deket, sih. Lima menitan lagi aku nyampe,” tambahnya. Revina masih berbicara, “Ada apa, Bu?” “Tentang saya yang bakalan pindah ke kantor pusat, tolong jangan kasih tahu anak-anak dulu, ya. Biar besok malam saya yang kasih tahu mereka secara langsung,” pinta Bu Yuyun. “Rencananya saya mau traktir kalian semua makan malam tim.” “Baik, Bu. Aku paham,” jawab Revina. “Ngomong-ngomong gimana keadaan Fatir, Bu? Baik-baik aja, kan?” “Saya sempat kaget banget, Rev. Tapi syukurlah dia baik-baik aja, hanya perlu di-opname satu atau dua hari aja.” Rasanya Revina ikut lega mendengar anak Bu Yuyun baik-baik saja. Bu Yuyun kembali berbicara, “Maaf ya Rev, tadi saya harus pamit duluan.” “Iya, Bu. Enggak apa-apa, kok.” “Menurut kamu, Pak Tristan gimana?” tanya Bu Yuyun kemudian. “Hmm, untuk sekarang aku belum bisa berpendapat apa-apa.” Andai Revina bisa blak-blakan kalau dirinya kepikiran untuk mengundurkan diri. “Ah, benar juga. Mana bisa menyimpulkan pada pertemuan pertama. Tapi saya pikir dia bukan tipe bos yang rese, setidaknya menurut kacamata saya. Mudah-mudahan aja.” Bu Yuyun masih berbicara, “Andaikan dugaan saya salah karena ternyata Pak Tristan itu tipe bos yang menyebalkan ... kamu tahan-tahanin aja ya, Rev. Dengar-dengar dia, tuh, nggak akan permanen alias sementara doang di GB.” “Hah? Bu Yuyun kata siapa?” Revina berharap ini benar bahwa Tristan hanya sementara. “Pak Tristan-nya sendiri yang bilang. Dia niatnya hanya membantu salah satu petinggi GB,” jelas Bu Yuyun. “Tapi tidak ada yang tahu masa depan. Bisa aja Pak Tristan berubah pikiran karena tim MnB, kan, seru,” kekehnya. Jika benar bahwa Tristan hanya sementara, Revina berharap pria itu tidak akan berubah pikiran. Dengan begitu, Revina tidak perlu memikirkan soal resign. Ia hanya perlu bersabar sampai Tristan pergi. “Ngomong-ngomong udah dulu ya, Rev. Fatir manggil saya,” kata Bu Yuyun lagi. “Saya tutup dulu teleponnya.” Setelah sambungan telepon terputus, bersamaan dengan itu taksi yang Revina tumpangi sudah tiba di depan kantor. *** Besok malamnya.... Bu Yuyun melaksanakan segala rencananya yakni memberikan pengumuman bahwa dirinya akan pindah ke kantor pusat sehingga akan ada yang menggantikannya. Pengumuman yang dibalut dengan makan malam tim sekaligus menjadi salam perpisahan baginya sebelum benar-benar angkat kaki dari kantor. Itu sebabnya Bu Yuyun sengaja memilih tempat yang spesial untuk makan malam kali ini. Makan malam berlangsung tenang. Saat Bu Yuyun mengutarakan tujuannya, ada rasa senang sekaligus sedih. Tim yang sudah seperti keluarga ini merasa senang karena atasan mereka berhasil meraih posisi yang diinginkan. Namun, sedihnya pun sangat kentara karena mereka harus berpisah dengan bos se-baik Bu Yuyun. Rasanya berat sekali. Hanya saja, mereka semua saling mendoakan segala yang terbaik untuk ke depannya. Setelah makan malam, dilanjutkan dengan karaoke bersama. Acara berlangsung hingga hampir tengah malam. Sampai pada akhirnya, mereka pulang ke rumah masing-masing. Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam saat Revina tiba di apartemen yang menjadi tempat tinggalnya. Tentunya dalam keadaan sadar sepenuhnya karena makan malam timnya tanpa ada acara minum-minum karena bukan budaya mereka sehingga hampir tidak pernah ada acara mabuk-mabukan. Revina setengah berlari menuju lift, berharap pintunya tidak tertutup dulu. Namun, sepertinya ia harus menunggu lift selanjutnya karena pintunya kini perlahan tertutup. Baiklah tidak apa-apa, toh Revina tidak sedang buru-buru. Meski ia tak bisa memungkiri ingin segera merebahkan diri di atas tempat tidur. Apalagi besok itu weekend sehingga Revina bisa bangun siang sepuasnya. Ajaibnya, tiba-tiba pintu lift tertahan lalu kembali terbuka. Apa orang di dalam sana menyadari ada yang sedang berlari? Baik sekali. Revina masuk dan hendak mengucapkan terima kasih, tapi saat tahu yang menahan pintu adalah Tristan karena hanya ada pria itu sendirian di sana ... spontan Revina terdiam selama beberapa saat. “Ma-makasih,” ucap Revina saat pintu mulai tertutup. “Kamu selalu pulang se-larut ini?” tanya Tristan. “Enggak juga,” jawab Revina tanpa mau menyebutkan alasannya. Ia yang ingin menekan nomor lantai langsung mengurungkan niatnya karena lantai tujuannya sudah ditekan. Terlebih lift mulai bergerak naik. Sebentar ... itu artinya Tristan menuju lantai 16 juga? Revina tidak mau berkomentar apa-apa. Protes pun tidak akan mengubah fakta, bukan? Jadi terserah saja pria itu tinggal di lantai yang sama dengannya. Meski kesal karena itu mustahil hanya kebetulan, Revina hanya perlu bersikap seolah tidak peduli. Lift berhenti beberapa kali sehingga semula hanya ada Revina dan Tristan, kini ada beberapa orang lain. Tiba di lantai tujuan, Revina dan Tristan berjalan beriringan keluar dari tempat sempit itu. “Bisa-bisanya kita sama se-lantai-lantainya,” ucap Tristan. Mana mungkin itu terjadi kalau tanpa disengaja? Jelas-jelas Revina merasa ini bukan kebetulan. Revina yakin seratus persen Tristan mengikutinya tinggal di sini! Hanya saja, lagi-lagi Revina tak mau berkomentar apa-apa. Wanita itu memilih berjalan menuju unit tempat tinggalnya tanpa mau tahu Tristan tinggal di unit yang mana. “Nanti buatkan acara makan malam tim juga, ya,” ucap Tristan yang spontan membuat Revina menghentikan langkahnya. “Saya tahu dari Bu Yuyun kalau malam ini ibarat perpisahan kalian sebelum saya menggantikannya. Bukankah itu yang membuat kamu pulang se-larut ini?” kata Tristan lagi. Revina kemudian memutar tubuhnya, “Ya, tapi Bu Yuyun mengurus acaranya sendiri. Enggak minta dibuatkan.” “Baiklah, kalau begitu saya yang akan mengurus sendiri nanti,” balas Tristan. “Pasti seru kalau seluruh tim tahu tentang hubungan kita di masa lalu.” Deg. Maksudnya apa Tristan bicara begitu? Jika tujuannya untuk bercanda, sungguh tidak lucu. “Sebenarnya apa untungnya, sih, bilang-bilang? Apa Pak Tristan se-bangga itu?” tanya Revina, tetap tenang dan berusaha menggunakan panggilan profesional. “Kamu sepertinya nggak ingin teman-teman satu tim tahu kalau kita adalah mantan yang dulunya saling mencintai?” tanya Tristan. “Saya kira Hans aja yang sebaiknya jangan tahu, ternyata teman-teman satu tim juga,” lanjutnya. Bila perlu semua orang jangan tahu. Itulah yang Revina mau. Lagian apa pentingnya coba orang-orang tahu masa lalu yang seharusnya privasi? Tristan kembali berbicara, “Saya memang nggak akan memberi tahu Hans, tapi saya ingin teman-teman satu tim kamu tahu.” “Apa itu ada untungnya?!” kesal Revina. Memberi tahu teman kerja Revina sama saja dengan memberi tahu Hans karena ada salah satu teman satu tim wanita itu yang merupakan teman kuliah Hans. “Bukan untung. Lebih ke seru-seruan aja, sih,” jawab Tristan, tanpa merasa berdosa. “Seru-seruan?” Revina semakin tak habis pikir. “Ya. Saya yakin kamu tahu kalau saya nggak akan permanen di Golden Bite, jadi saya ingin memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Go public tentang hubungan kita di masa lalu ... saya pikir akan membuat kesan yang nggak terlupakan.” “Go public padahal udah nggak ada hubungan apa-apa lagi itu aneh.” “Kamu keberatan?” “Enggak. Silakan umumkan kalau mau terlihat konyol,” jawab Revina, meski bertentangan dengan isi hatinya. Jelas-jelas ia tidak ingin semua orang tahu, tapi ia juga tidak mau terlihat ‘terancam’ oleh Tristan. Kini ia hanya bisa berharap Tristan berubah pikiran. Toh pria itu baru resmi bergabung di Golden Bite Senin nanti. Namun, tanpa diduga Tristan malah mengeluarkan ponselnya. “Kebetulan banget nih Bu Yuyun udah invite saya ke group chat. Saya bisa mulai dari sini.” Detik berikutnya, Revina merasa ponselnya bergetar tanda ada notifikasi chat. Ia merogoh handbag-nya dan langsung melihat isi notifikasi chat yang Tristan kirimkan ke grup. Ternyata pria itu sungguh serius. Tanpa ba-bi-bu lagi, Revina merebut ponsel Tristan lalu menarik kembali pesan yang pria itu kirimkan. Pesan yang kabar baiknya masih sapaan dan belum sampai ke intinya. Terlebih lagi belum ada yang membaca satu pun. “Loh, tadi katanya nggak apa-apa?” tanya Tristan, merasa menang. “Tolong jangan bahas urusan pribadi di pekerjaan.” “Intinya kamu nggak mau saya ngasih tahu tentang masa lalu kita, kan?” “Ya, jadi tolong nggak usah kasih tahu semua orang. Toh nggak penting juga, kan?” Tristan tersenyum. “Kalau begitu, sekarang waktunya negosiasi.” Revina mengernyit. “Negosiasi?” “Saya nggak akan kasih tahu orang-orang asalkan kamu mau membuat perjanjian penting dengan saya.” “Perjanjian penting? Perjanjian apa?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN