“Mimpi apa aku semalam? Tiba-tiba dipertemukan lagi sama kamu,” ucap Tristan sambil mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. “Dan seperti yang aku katakan di gudang tadi, bahwa kita berdua belum selesai bicara. Makanya aku menawarkan diri mengantarmu pulang.”
“Sejujurnya aku nggak mau diantar.”
“Aku tahu,” jawab Tristan cepat. “Tapi kenyataannya sekarang kamu duduk di sampingku, bukan?”
“Terpaksa.”
Tristan berdecak. “Apa ini? Kamu bersikap seolah di antara kita nggak pernah ada apa-apa.”
“Om Tristan mau aku bagaimana? Semua udah berlalu dan tolong banget, bisakah jangan membahas masa lalu lagi?”
“Om Tristan?” kekeh Tristan. “Kamu memanggilku dengan sebutan itu? Bukan main.”
“Kita memang dulu pacaran, tapi sekarang aku pacar Hans ... keponakan Om Tristan. Bukan hal aneh aku memanggil Om Tristan juga, kan?”
“Aneh. Itu aneh,” balas Tristan.
“Hubungan kita udah berakhir delapan tahun lalu. Aku rasa kita hanya membuang-buang waktu kalau bahas masa lalu, toh nggak akan mengubah apa pun. Faktanya, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Kita juga udah punya kehidupan masing-masing. Jadi, bisakah kita bersikap seolah nggak pernah saling mengenal?”
“Enggak bisa,” jawab Tristan tanpa keraguan.
Revina mengembuskan napas frustrasi. “Aku mohon.”
“Setelah delapan tahun meninggalkanku tanpa penjelasan, kamu ingin kita seolah nggak saling mengenal?”
“Tanpa penjelasan? Jelas-jelas aku mundur karena kamu dijodohkan dengan perempuan lain, bahkan akan menikah dalam waktu dekat. Kenapa masih bilang tanpa penjelasan? Ini pura-pura nggak peka atau gimana?”
Alih-alih menjawab, Tristan mencari tempat yang aman untuk menepi. Setelah menepikan mobilnya dan berhenti, ia menoleh ke arah Revina dengan tatapan yang campur aduk antara rasa penasaran dan menuntut jawaban, kerinduan dan amarah.
“Sadarkah kamu waktu itu bersikap seakan bersedia kawin lari? Rupanya kamu hanya memberi harapan palsu.”
“Kapan aku bilang begitu? Kapan aku bilang bersedia kawin lari? Jelas-jelas aku menolak karena aku satu-satunya harapan keluargaku.”
Revina menambahkan, “Aku bahkan bilang baru diterima kerja tapi sengaja nggak bilang diterima kerja di mana. Itu biar apa coba? Biar kamu nggak bisa menemukanku.”
“Kamu memang nggak bilang mau diajak kawin lari, tapi sikap kamu se-jelas itu. Kamu hampir pasti siap diajak kawin lari.”
Revina menggeleng. “Aku nggak pernah bersikap seperti itu. Kamu pasti salah paham—”
“Salah paham? Kamu tanpa ragu menyerahkan segalanya, Revina. Aku sempat merasa bersalah karena telah merenggut hal berharga itu, tapi aku juga sadar ... aku begitu supaya kamu tetap bersamaku. Berhubung aku telah merenggutnya, aku berasumsi kalau kamu nggak mungkin pergi. Malah yang ada, kamu harusnya menuntut tanggung jawab dariku. Tapi yang terjadi apa? Kamu malah pergi dariku. Dan menurutku itu aneh.”
“Enggak ada yang aneh, Om.”
“Jangan panggil aku om!”
“Denger dulu,” pinta Revina. “Aku sengaja mundur karena memang itu yang harus aku lakukan. Aku juga sengaja pergi begitu aja, bayangin kalau aku bilang ... mana mungkin aku bisa pergi? Kamu pasti menahanku. Sedangkan aku nggak bisa bertahan di samping kamu.”
“Kenapa nggak bisa? Padahal kita saling mencintai.”
“Pertanyaan macam apa itu? Kamu bertanya kenapa nggak bisa?”
“Hanya karena aku dijodohkan?”
“Hanya karena, kamu bilang?!” tanya Revina penuh penekanan, ia tak habis pikir. “Aku nggak punya alasan untuk tetap bertahan sedangkan kamu dijodohkan. Kalau aku tetap bersama kamu, entah se-kacau apa jadinya. Aku beneran nggak punya pilihan lain. Menghindar adalah pilihanku satu-satunya.”
Revina menambahkan, “Tristan dengar, cinta doang nggak cukup. Harus ada restu dan kita nggak bisa mendapatkan itu dari orangtua kamu.”
“Padahal kamu hanya perlu bersamaku lalu kita bahagia.”
“Enggak semudah itu, Tristan. Jangan menggampangkan sesuatu yang jelas-jelas susah. Apalagi delapan tahun yang lalu itu ... kita masih sangat muda, keluargaku masih butuh aku,” jawab Revina. “Keluarga kamu juga berharap banyak sama kamu. Jadi, aku rasa memang perpisahan kita adalah pilihan yang terbaik.”
“Terbaik apanya....”
“Buktinya sekarang kita punya kehidupan masing-masing, kan? Meski aku masih nggak habis pikir, dari sekian banyak laki-laki di dunia ini ... kenapa kamu yang harus jadi pamannya Hans.”
“Kamu bahagia dengan hidupmu yang sekarang?” tanya Tristan.
“Tentu,” jawab Revina tanpa ragu. “Memangnya kamu nggak bahagia? Kamu bahkan punya putri yang cantik dan imut. Meski aku masih nggak paham kenapa kamu memberinya nama yang sama persis dengan namaku.”
“Kenapa bertanya? Itu karena aku nggak bisa move-on dari kamu.”
“Konyol.”
Tristan mengernyit. “Kenapa konyol?”
“Oke, mungkin awal-awal menikah kamu masih belum move-on dariku. Wajar karena kalian dijodohkan.”
“Sekarang pun aku belum move-on,” jawab Tristan cepat. “Kamu pikir aku bakal melakukan semua ini kalau udah move-on?”
“Jangan gila. Harus berapa kali aku bilang kalau kita udah punya kehidupan masing-masing? Terlepas dari apa yang kita lalui bersama di masa lalu, nggak akan mengubah fakta kalau saat ini aku pacarnya Hans. Kamu mendingan fokus aja sama anak dan istri—”
“Istri? Sayang sekali aku nggak punya istri.”
Revina mengernyit. “Apa?”
“Aku duda. Kamu seharusnya udah bisa menebak. Andai aku punya istri, dia pasti ikut denganku dan mungkin tadi bisa sekalian berkenalan denganmu. Masalahnya adalah ... nggak ada yang namanya istri.”
Revina terdiam.
“Kamu senang aku duda?”
“Kamu beneran gila. Astaga. Aku cuma kaget.”
“Yah, terkadang keputusan orangtua menjodohkan anaknya apalagi dengan cara memaksa ... bisa mendatangkan kekacauan. Andai aku nggak dijodohkan dan kamu nggak kabur, bisa dipastikan statusku saat ini bukan duda, melainkan suami kamu.”
“Ya ampun, Tristan. Aku minta tolong banget.”
“Tolong apa?”
“Aku mohon ini terakhir kalinya kita membahas tentang masa lalu. Aku dan Hans saling mencintai. Aku berharap kamu menemukan wanita idamanmu tanpa mengusik hubungan kami yang sejauh ini selalu baik-baik aja.”
“Delapan tahun lalu, apa kamu nggak benar-benar mencintaiku?”
Mana mungkin Revina tidak benar-benar mencintai Tristan? Revina sangat mencintai pria itu sampai-sampai tanpa ragu menyerahkan segalanya, bahkan sempat terpuruk pada beberapa bulan pertama setelah mereka berpisah. Namun, Revina sadar mereka tak mungkin bisa bersama apalagi Tristan sudah berstatus suami orang.
Sampai akhirnya Revina berupaya menghapus segala tentang Tristan di benaknya. Ia juga sadar tak bisa berlama-lama terpuruk karena ada keluarga yang harus ia nafkahi.
Revina perlahan membiasakan hidupnya lebih sibuk, menata kariernya yang tadinya hanya karyawan kontrak menjadi tetap. Bahkan, ini tahun kedua Revina menduduki jabatan sekretaris dari kepala divisi Golden Bite, perusahaan makanan ringan tempat ia bekerja.
“Kenapa diam? Kamu dulu hanya main-main?” tanya Tristan lagi, karena Revina belum merespons pertanyaannya.
“Kenapa menanyakan itu? Padahal nggak ada gunanya lagi.”
“Aku hanya ingin memastikan, karena dulu ... aku merasa kamu sangat mencintaiku.”
“Maaf, aku nggak mau membahas itu lagi. Kisah kita udah berakhir delapan tahun yang lalu, bagaimanapun cara kita berpisah itu nggak penting. Jadi, sebaiknya jangan diungkit-ungkit lagi. Aku mohon, hargai hubunganku yang sekarang.”
Tristan seharusnya tidak menanyakan itu karena ia tahu jawabannya. Delapan tahun lalu ... jelas-jelas mereka saling mencintai. Sangat.
“Tapi bukankah ini lucu? Kita dipertemukan lagi dengan situasi nggak terduga begini,” ucap Tristan, kali ini mulai menyalakan mesin mobilnya lagi. Matanya fokus ke arah jalanan dan tidak sampai lima menit, mobil yang dikemudikannya sudah berbaur dengan kendaraan lain di jalanan.
“Itu yang jadi pertanyaanku, dari sekian banyak manusia di dunia ini ... kenapa kamu yang jadi paman dari pacarku?”
Tristan hanya tersenyum tipis. Matanya pun hanya fokus ke arah jalanan. Sedangkan Revina sedang berharap-harap cemas, semoga pembicaraannya dengan Tristan selesai sampai di sini. Maksudnya, semua clear sehingga pria itu tidak perlu mengungkitnya di lain waktu.
Revina juga berharap apa yang Tristan lakukan di gudang tadi ... tidak akan pernah pria itu ulangi. Revina akan mencoba melupakannya, tidak pernah mengungkitnya serta menganggap pelukan dan ciuman singkat itu tidak pernah terjadi. Semoga Tristan pun melakukan hal yang sama sepertinya.
Mobil terus melaju dalam keheningan. Baik Revina maupun Tristan, tak ada yang berbicara lagi di antara mereka. Sampai akhirnya, mobil yang Tristan kemudikan tiba di depan lobi apartemen yang Revina tempati.
“Jadi, kamu tinggal di sini,” kata Tristan.
“Makasih udah mengantarku.”
“Seperti yang aku bilang, aku mengantar karena kita belum selesai bicara.” Selain itu, Tristan juga sekaligus ingin tahu tempat tinggal Revina.
“Berhubung semuanya clear dan kita pun udah selesai bicara, kalau begitu aku turun, ya,” pamit Revina.
“Kata siapa kita udah selesai bicara? Belum,” sanggah Tristan tepat saat Revina membuka sabuk pengamannya.
Jelas Revina merasa heran. Maksud Tristan apa? Sebenarnya apa yang pria itu inginkan?
“Kita belum selesai bicara, Revina,” tambah pria itu.
“Apa lagi yang perlu kita bicarakan? Semuanya udah cukup. Mari menjalani hidup masing-masing dan kalau bisa ... bersikaplah seakan kita nggak pernah saling mengenal.”
“Nah, poin itu yang aku nggak bisa. Aku nggak bisa bersikap seolah kita nggak pernah saling mengenal.”
“Maksud kamu apa?”
“Kira-kira apa pendapat Hans, Mbak Karmila dan Mas Wijaya kalau tahu kisah kita di masa lalu?”
Deg.
“Bisakah kita tetap merahasiakan itu? Aku rasa itu lebih baik supaya nggak perlu ada kecanggungan. Enggak ada untungnya juga, kan, mengungkit soal itu?”
“Revina, kamu takut ketahuan, kan, kalau kita udah pernah melakukannya? Hans pasti syok banget.”
“Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Jangan bertele-tele.”
“Aku akan merahasiakan apa yang terjadi di antara kita, tapi dengan satu syarat.”
“Syarat? Apa syaratnya?” Perasaan Revina mulai tidak enak.
Tristan ikut membuka sabuk pengamannya lalu mendekat pada Revina. Ia membisikkan kalimat yang membuat wanita itu kaget se-kaget-kagetnya.
“A-apa?!”
Tristan pasti gila....