Kali ini Gema harus berkunjung ke gedung pusat yayasan Atmodjo berada. Laki-laki itu menenteng tas berisi dokumen pengadilan soal perceraiannya dengan Ajeng. Ia melirik arloji yang melekat di pergelangan tangannya, pukul sembilan pagi tertunjuk di sana. Ia harus buru-buru karena ada meeting jam sepuluh. Seharusnya ia bisa saja menyuruh sekertaris atau siapapun itu untuk mengantarkan dokumen ini. Tapi mengingat bahwa mata-mata Papah nya saja masuk ke kediamannya tanpa ia sadari, jadilah ia memilih untuk membawa kertas penting ini sendirian. Gema selalu dikelilingi rasa was-was akan bayang-bayang sang Papah yang bahkan orang-orang nya saja masih berada di area kantornya. Ia tersenyum formal pada setiap pegawai yang membungkuk hormat saat menyadari kehadiran laki-laki itu di sana. Karena s

