Bukan Orang Ketiga | Bab 7

1044 Kata
Nafas Tari tersengal. Ia menutup matanya kalut. Jarak antara tubuhnya dengan Gema kini hanya se inci. "Kamu bahkan gak perlu lakuin apapun buat dapetin perhatian aku." Bisik laki-laki iu dengan intens di telinga Tari. Wanita itu menelan ludahnya gugup. "Gema, kita bicara." Ujarnya dengan mata tertutup. "Please.." Mendengar hal itu, Gema langsung memundurkan badannya. Ia kembali berdiri di sisi ranjang. Wanita itu membuka matanya takut-takut. Untuk sementara Tari dapat bernafas dengan lega. Ia kemudian menunduk saat netranya tanpa sengaja bertatapan dengan sorot mata tajam milik Gema "Jelasin!" "Yah, kamu gak usah bentak dulu!" Tari berteriak. Ia terpojok, jadi iu adalah respon terbaik dalam perlawanan nya. "Kamu udah janji kalau istri kamu gak bakal datengin aku." Tari bersuara dengan pelan. "Dia datang, cewe itu tau. Kamu boong!" "Aku gak tau. Orang yang aku suruh teledor." "Itu urusan kamu!" Tari mencoba mengatur emosi nya. "Dia tawarin bantuan buat ibu aku—" "Aku kan juga bantuin kamu." Wanita itu berdecak. "Dengerin aku ngomong dulu, bisa?" Setelah laki-laki itu mengangguk, Tari pun melanjutkan. "Hubungan kita tuh gak ada ujungnya Gema. Kita saling nyakitin. Jadi dia dateng kasih solusi. Kita saling menjauh dan ibu aku selamat." Tari menunduk semakin dalam. "Dia cantik, baik, berpendidikan dan kamu pasti lebih bahagia bareng dia. Keluarganya juga terpandang nggak kayak keluarga aku." Wanita itu menampilkan sorot mata yang lelah bercampur pasrah. Netranya menangkap iris mata milik Gema. "Aku gak mau jadi perusak rumah tangga orang.." ujarnya lirih tapi masih mampu terdengar. "Aku gak bisa Ge—" Sebuah bibir menyentuh mulutnya lembut dan mencoba melumatnya. Tari tersentak kaget untuk beberapa detik. Ia berusaha memberontak tapi ditahan oleh pria itu. Gema yang awalnya melumatnya dengan pelan perlahan kasar dan penuh nafsu. Wanita itu ketakutan. Ia pikir mampu meluluhkan hati Gema dengan membujuknya baik-baik. Ternyata salah. Kepasrahan Tari atas nasib hubungan mereka malah membuat Gema semakin menginginkan wanita itu. Tari mulai berkaca-kaca saat laki-laki itu dengan perlahan mencoba membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Wanita itu mencoba menahannya dengan tangan tapi gagal, tenaganya terlalu kuat. Lalu wanita itu menggigit lidah Gema dengan keras. Hal itu membuatnya memundurkan tubuhnya dari Tari yang sudah setengah berbaring. Keduanya bernafas dengan cepat. Tari menatap dengan sorot amarah ke arah laki-laki itu. "Aku bilang, AKU GAK MAU JADI p*****r KAMU." Wanita itu bangkit dengan sisa tenaga yang ada. Ia berhasil meraih knop pintu andai saja Gema tidah menarik tubuh mungilnya untuk menjauh. Tari kembali di dorong menuju kasur dengan situasi terpojok. Sementara Gema sudah menghimpit tubuhnya dengan bertumpu di sisi ranjang. "PLAK!" Vas yang awalnya ia simpan di ranjang kini ia lempar ke pipi Gema. Pecahan vas itu terhambur kemana-mana. Laki-laki itu memegang pipinya yang lebam. "JAUHIN AKU!!" Gema menarik nafasnya emosi. Ia menyaksikan kembali tangan Tari yang mulai bergerak mencari barang lain agar dapat ia lempar ke arahnya. Dengan refleks ia hentikan pergerakan lemah wanita itu. "Okay, okay. Tenang!" "LEPASIN AKU!!" Gema menurut dengan terpaksa. Ia mundur ke sisi ranjang. Membiarkan wanita itu menodongnya dengan lampu hias yang dia ambil dari meja. "Jangan pernah berani-beraninya kamu sentuh aku lagi!" Ujar Tari dengan tegas. Laki-laki itu menghembuskan nafasnya. "Aku harus apa biar kamu balik lagi sama aku?" Tanya Gema dengan nada pasrahnya. Tari yang mendengar itu pun hanya bisa berdecih sinis. "Kamu kapan sadarnya sih hah?! Aku gak minat sama suami orang!" "Kalau aku jadi suami kamu gimana?" Wanita itu menganga. "GILA HAH?" Ia dengan cepat memukul d**a Gema dengan lampu hias yang ia genggam berkali-kali. "Dengerin dulu, dengerin aku." Gema mencoba menahan tangan wanita itu. "Kita emang berencana nikah kan dulu? Kamu pernah nerima lamaran aku kan?" "Itu dulu Gema!! Kamu udah nikah sekarang, dan istri kamu bukan aku!" Laki-laki itu menatap netra Tari dengan lembut. "Aku mau kita nikah. Kita lanjutin rencana kita. Semuanya." "PLAKKK!" Tari menampar Gema dengan tangannya. "Gila yah? Istri kamu gimana? Aku gak mau jadi pengahancur hubungan orang lain." "Dia yang udah ngehancurin hubungan kita, Tar." Seolah sakit yang ia rasa tidak seberapa daripada kehilangan wanita yang ada di hadapannya ini sekali lagi. Ia berusaha melakukan hal nekat hanya untuk melihatnya lebih lama. "Jujur Tar, kamu masih cinta kan sama aku. Perasaan kita masih sama kan?" Gema menarik telapan tangan wanita itu dan membawanya menyentuh lembut dadanya. "Jantung aku masih berdetak untuk perempuan yang sama, Tar. Kamu" Tidak, tidak! Tari hampir luluh. Kata-kata manis dari laki-laki itu dan rayuan mautnya. Ia tidak boleh jatuh ke lubang yang sama. "Tatap mata aku dan bilang di hadapan aku kalau kamu udah gak sayang sama aku lagi." Tangan Gema menyentuh bahu wanita itu dan menggoyangkan nya berkali-kali. "Bilang Tar, ayo bilang!" Lidah Tari mendadak kelu. Ia tidak mampu berkata apa-apa lagi. Sementara di hadapannya, sosok Gema hadir dengan menggebu-gebu. Wanita itu mencoba mengendalikan dirinya. Ia menelan ludahnya gugup. "Aku.gak.mau!" Ujarnya dengan penuh penekanan setiap kata. Gema menggeram emosi. Dia mundur kemudian merampas lampu hias dari sisi Tari dan melemparnya ke dinding. "Aku udah coba sabar sama kamu!" "Aku udah baikin kamu, coba bujuk kamu pelan-pelan. Tapi apa?! KAMU BILANG GAK MAU??!" Gema berteriak. Sementara Tari hanya mampu menunduk takut. "Aku kurang apasih hah? Aku kasih kamu semuanya!" "Karena hubungan kita gak bisa di paksain! Gak bisa.." lirih Tari tanpa berani mengangkat kepalanya. Kemudian laki-laki itu mendekat dan mencengkram dagu Tari agar menatap matanya. "Jangan harap kamu bisa lolos dari aku!" Perkataan Gema itu membuatnya teringat satu hal. Ibunya! Tari panik, ia menatap Gema dengan raut wajah penuh tanda tanya. Laki-laki itu berdecih. "Kamu kira aku bodoh hah? Aku bisa buat kamu mohon-mohon sama aku sekarang. Aku punya kuasa untuk itu kan?" Tari menggeleng cepat. "Gak, enggak! Jangan ibu aku, please Gema. Jangan!" Wanita itu bangkit dari kasur saat melihat Gema mengambil ponselnya dari saku celana. Tari mendekat dan mencoba menggenggam tangan pria itu. "Jangan, please.." Tari memperlihatkan sorot mata iba pada laki-laki itu namun tak di gubris. Gema melangkah kan kakinya pergi dari kamar itu sementara Tari berdiri kaku di sisi ranjang. Sebelum ia meninggal kamar itu, Gema bebalik menatap Tari sejenak. "Kamu pikir, Ajeng akan bantuin kamu?" Laki-laki itu tersenyum sinis. "Dia gak bisa lakuin apapun buat bantuin kamu!" Hingga akhirnya sosok laki-laki itu pun menghilang. Menyisakan Tari yang terpojok akan situasi yang terjadi. Wania itu terduduk di lantai sambil memeluk lututnya. Tubuhnya bergetar hebat dengan pikiran yang berkecamuk. Sekarang bagaimana?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN