Tari duduk di samping ranjang ruang inap sembari menatap wajah ibunya. Bukan bangsal biasa, tapi ia berada di ruang rawat khusus VIP. Dibayar oleh Gema tentu saja. Sementara pria itu sedang keluar entah kemana.
Dia sebenarnya ingin bekerja, tapi ia kurung niat itu karena melihat tidak ada yang menjaga ibunya saat ini. Padahal wanita itu sangat membutuhkan uang sekarang.
Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 yang artinya sudah sekitar 2 jam ibunya keluar dari IGD dan belum sadarkan diri. Hal yang baru saja terjadi pagi tadi adalah hal yang paling ia takutkan selama ini. Penyakit ibunya kambuh, dan dia tidak mampu berbuat apa-apa karena biayanya.
Seharusnya sekarang ia sedang berada di kontrakan yang ia cicil dengan uang lemburnya semalam. Tapi saat sampai di rumah, uang itu malah di rampas oleh ayahnya untuk judi. Jadilah sekarang ia tidak tau mau kemana setelah keluar dari Rumah Sakit.
Pandangan menjadi getir tatkala melihat para perawat datang mengecek ibunya setiap satu jam sekali. Impian yang sudah ia inginkan sejak kecil. Tak ada yang lebih sakit daripada merelakan apa yang kita cita-citakan sejak lama.
Suara pintu terbuka membuat lamunannya terbuyar. Ia menoleh penasaran kepada sosok yang masuk karena memang belum jadwal para perawat untuk datang.
Lalu muncullah tubuh pria tinggi dengan setelan jas rapi dan rambut yang ditata sedemikian rupa.
Dia Gema.
Pria yang ia coba lupakan itu malah datang menolongnya di saat tersulit. Entah itu tergolong beruntung atau tidak.
"Kamu udah makan?" Gema bertanya sambil jalan menuju arah perempuan itu.
Tari membalas dengan anggukan. "Udah kok."
Pria itu menaikkan alisnya bertanya, "jangan boong, kamu makannya kapan?" Ujarnya sambil mengeluarkan makanan dari kantong keresek yang ia bawa.
"Aku ada beli Soto Ayam kesukaan kamu, gak pedis kok kayak biasanya."
Tari tersenyum getir. "Aku mau kerja dulu. Ibuku aman kan di sini?"
"Kenapa gak makan dulu?"
Wanita itu menggeleng. "Gak usah, nanti di tempat kerja aku sekalian makan." Ujarnya kemudian perlahan berjalan keluar.
"Aku anter yah."
Kepekaan Gema akan kondisi ekonomi Tari membuatnya mengatakan hal tersebut. Wanita itu harus bekerja, tetapi jarak antara Rumah Sakit dan cafe tempatnya itu jauh. Apalagi sekarang pasti Tari tidak memegang uang sepeserpun hanya untuk memesan ojek atau taksi.
Gema berjalan mendekati wanita itu. "Gak usah nolak, aku tau kok kondisi kamu." Ujarnya kemudian pergi meninggalkan ruang kamar itu.
Lalu bagi Tari. Dibandingkan harus menghabiskan uang hanya untuk kendaraan menuju tempatnya bekerja, lebih baik ia turunkan gengsinya itu. Hingga akhirnya ia langkahkan kakinya mengekori langkah kaki Gema.
Tapi tentu saja pilihan untuk berangkat bersama Gema diiringi oleh konsekuensi nya. Keheningan. Apa yang diharapkan dari pasangan mantan kekasih yang satu mobil itu?
"Kamu udah lama kerja di sana?"
"Ngapain nanya? kamu kan lebih tau karena selalu ngawasin aku."
Perkataan itu membuat Gema menutup mulutnya rapat-rapat dan memilih fokus ke jalanan.
Tetapi kemudian dia mendapatkan ide untuk menghilangkan rasa hening diantara mereka.
"Aku puterin lagu kesukaan kamu yah." Kemudian mengotak-atik layar handphonenya yang sudah tersambung bluetooth untuk menyalakan musik.
"REWRITE THE STAR" From Anne Marie-James Arthur Now Playing
Tari yang selama perjalanan memalingkan wajah ke arah jendela membuatnya berbalik ke arah pria itu setelah mendengar melodi yang terputar. "Aku benci sama lagu itu, itu bukan lagi kesukaan aku lagi."
Dengan refleks Gema mematikan lagu tersebut. Ia mengulum bibirnya panik. Rencananya gagal. Akhirnya ia memutuskan untuk memutar lagu random dari radio saja.
Mobil itu sudah berjalan setidaknya 20 menit yang lalu. Tapi, selain dari interaksi kaku mereka, tidak ada lagi yang terjadi diantara keduanya. Tari yang hanya menyoroti jendela tanpa peduli dengan laki-laki disebelahnya, dan Gema yang gelisah karena wanita itu sangat menampilkan sikap acuh tak acuh padanya.
Tetapi ia sudah menunggu dan melalui banyak momen hanya untuk sekedar menonton wanita itu dari jauh. Tidak mungkin mereka sudah sedekat ini tapi tidak membuat perubahan apa-apa aja, begitu pikir Gema.
"Makasih."
Tetapi sepertinya Gema salah paham. Wanita segengsi Tari pasti diliputi rasa bersalah hanya karena 'utangnya' pada Gema. Lantas kenapa tidak laki-laki itu manfaatkan?
"Bukannya kamu harus bayar itu yah?"
Perkataan Gema membuat wanita itu berpaling lagi kepadanya dengan ekspresi bertanya-tanya.
Laki-laki itu berdehem. "Yah.. kan kamu sendiri yang bilang gak enak."
"Oh iya aku paham kok, aku bakal berusaha ganti. Asal kamu sabar, aku bisa kumpulin uangnya kok."
Gema menggeleng, "oh gak, bukan." Ujarnya. "Aku gak mau kamu balas itu pakai uang."
"Aku bukan cewe kayak gitu!"
"Gak kok, apasih yang ada di pikiran kamu." Gema sedikit gelagapan. "Itu anu, temenin aku ke acara penggalangan dana perusahaan. Gimana? Temenin aja kok. Aku kasih kamu uang, kamu kasih aku waktu. Aku cuman butuh itu kok."
Tari menyernyitkan alisnya. "Istri kamu gimana? Bukannya harusnya sama istri kamu kan?"
"Dia gak bisa. Dia lagi ada kegiatan lain."
"Tapi dia tau gak kamu bawa aku?"
Gema kebingungan menjawab pertanyaan itu. "Jadi kamu gak mau? Jadi kamu mau bayar 'utang' kamu pake apa?" Hingga akhirnya laki-laki itu memilih untuk menghindar daripada menjawab.
Tari menghela nafas. "Itu suami orang Tar, gak mungkin dong." Ujarnya dalam hati. Tapi gak ada pilihan kan? Gema menempatkan nya di posisi antara mengembalikan seluruh uang yang di kasih sama Gema atau berperan kayak simpanan cowok itu.
Keduanya sama-sama punya resiko kan?
"Temenin doang kan?"
Gema mengangguk cepat. "Yap, temenin doang."
"Oke, aku mau. Asal istri kamu gak labrak aku aja." Hingga akhirnya kemiskinan membuatnya tidak mempunyai gengsi sama sekali.
Laki-laki itu berteriak kegirangan dalam hati. Ia bahkan tak mampu menahan senyumnya yang perlahan merekah.
"Tapi aku ada syarat yang lain." Ujar Tari yang membuat Gema kembali mengontrol dirinya.
Tari menarik nafas sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka mulutnya. "Aku mau ibu aku punya stok inhaler lengka dan akses penuh ke klinik buat check up rutin."
Gema kaget. Akhirnya wanita disebelah ini tau bagaimana cara meminta tolong kepada dirinya. Meski berada di balik kata 'syarat' itu.
"Oke, cuman itu kan? Gampang kok. Aku bisa urus." Ujar Gema sembari tersenyum senang. "Jadi kita udah deal kan?"
Wanita itu mengangguk. Entah apakah pilihan merendahkan dirinya dihadapan pria ini adalah pilihan yang tidak akan disesalinya. Tapi kesempatan ini, adalah satu-satunya yang ia punya.
Gema memang selalu menjadi penyelamat dari dulu. Melibatkan dirinya dan mengorbankan banyak hal hanya demi bisa pacaran lebih lama sama wanita disebelahnya.