"Kamu udah pulang Mas?"
Wanita yang sedang terbaring di atas sofa itu langsung bangkit tatkala mendengar suara pintu terbuka. "Aku siapin makanan nya yah, kamu pasti laper." Ujarnya sambil mengikat rambutnya ke atas.
"Gak usah, aku mau langsung tidur aja." Jawab pria dengan status suaminya itu yang membuat nya membeku di tempat.
Sudah sekitar 6 bulan ia tinggal seatap dengan pria itu, tapi tak sekalipun ia dapati kedekatan yang berarti. Ia kembali duduk di sofa, hanya menatap pergerakan sang suami tanpa tau harus berkata apa.
Dialah Ajeng. Wanita yang rela dijodohkan dengan laki-laki seperti Gema hanya karena wasiat terakhir ibunya. Yah, ia pun paham kalau Gema juga tidak pernah menganggap pernikahan ini sekali pun.
Ajeng menatap pria itu naik ke lantai atas. Tempat yang seinci pun tak pernah Ajeng datangi. Mereka bukan menikah kemudian melakukan kontrak atau semacamnya saat malam pertama mereka. Tak ada aturan istimewa dalam ikatan ini.
Kecuali sikap tak senang Gema setiap Ajeng naik ke kamar atas dan membantunya menyiapkan bersiap-siap. Pernah sekali wanita itu lakukan dan ia dapati hanya tatapan dingin menusuk yang menyuruhnya segera pergi sebagai tanda terimakasih.
Ia pun tak mencintai Gema sebagaimana istri dan suaminya. Hanya saja, pernikahan ini adalah pernikahan impian yang ingin ia jalani seumur hidupnya. Sesuai keinginan Ibunya sebelum ia pergi.
Namun setiap pendekatan yang ia lakukan tak berarti apa-apa. Semuanya sia-sia selama enam bulan ini.
Ajeng membuka ponselnya kemudian mengotak-atik layar di atasnya untuk menghubungi seseorang diseberang.
"Halo? Hari ini Mas Gema ngapain aja yah?" Tanya wanita itu.
Terdengar suara helaan dari sosok yang ditelfon.
"Dia ketemu lagi sama perempuan itu, Bu."
"Ah, ternyata Mas Gema berjam-jam di parkiran lagi yah buat liatin cewe itu? Pantes pulang lama."
"Gak Bu." Jawaban seseorang di sebelah sana membuat dahi Ajeng berkerut penasaran.
"Kali ini Pak Gema gak di nunggu di parkiran. Dia masuk, ketemu dan bicara sama perempuan itu."
Ajeng menunduk. Terkekeh sinis mendengar hal yang dilakukan oleh suaminya. "Mereka..."
"Gak kok Bu. Perempuan itu cuman layanin pesanan Pak Gema. Setelah itu mereka gak bicara lagi."
Wanita itu mengangguk. "Yaudah, makasih yah, kamu bisa istirahat sekarang."
Kebiasaan suaminya selama 6 bulan pernikahan mereka juga tidak berubah banyak. Tapi kebetulan hari ini suaminya berani membuka 'pergerakan'. Entah perempuan itu akan terbawa atau tidak.
Meski tidak bisa ia salahkan perempuan itu sepenuhnya karena kenyataan nya, Mas Gema yang mendatanginya. Entah bagaimana ujung hubungan mereka, intinya Ajeng sudah menguatkan hatinya untuk kemungkinan terburuk.
Ia melangkah masuk ke arah kamarnya yang berada di lantai bawah. Yah, pasangan suami-istri hasil perjodohan ini masih pisah ranjang hingga kini. Entah sampai kapan.
Hingga pagi menjemput dan mengantar ia menemui tantangan baru lagi.
"Perasaan kamu gimana selama ini?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Gema dengan entengnya terdengar.
Mungkin sudah berhari-hari ia renungkan sebelum menanyakan hal ini. "Aku fine-fine aja kok Mas."
"Jangan bohong, pasti orang kamu udah laporan kan soal kejadian semalem?"
Dan sudah bukan tebakan lagi, tentu saja selama ini Gema sadar ia selalu diikuti kemana pun ia pergi.
Pernyataan itu membuat Ajeng menghentikan kegiatannya dan duduk di meja makan. Menatap sang suami dengan sorot mata dalam.
"Aku ngerti perasaan kamu ninggalin cewe itu Mas, tapi—"
"Gak ada yang ngomongin perasaan aku!" Suara Gema dingin memutus perkataan sang istri. Ia menarik nafas kemudian melanjutkan, "aku gak masalah kamu bayar orang berapa pun siapa pun, cuman buat buntutin aku, aku gak masalah."
"Tapi kamu pernah gak sih nanyain perasaan kamu sekali pun sama diri kamu sendiri?"
Ajeng terdiam.
"Aku tau kamu juga terpaksa sama semua ini. Aku paham perasaan kamu gak sedalam itu. Aku tau kamu berusaha tapi aku gak bisa."
Gema menunduk, mengusap keningnya yang seolah di tusuk jarum. Pria itu mencoba untuk mengontrol nada bicaranya agar setidaknya tak melukai sang istri.
"Aku minta maaf, aku boong namanya kalau bilang aku bisa lupain dia." Kalimat terakhir sebelum ia memutuskan untuk berdiri. Berencana untuk pergi meninggalkan ruang obrolan yang sudah dari jauh-jauh ia rencanakan.
"Aku bisa kok Mas, pura-pura gak tau."
Sedetik sebelum ia melangkah kan kakinya, Ajeng membunyikan suaranya. "Kita bicara Mas, duduk." Ucapan Ajeng yang seolah tak bisa ia bantah.
Ia kembali duduk, tapi berbeda dengan Ajeng, pria itu memilih menatap kopi yang mengebul hangat di atas meja.
"Ini soal pernikahan kita kan? Aku bisa lakuin apa pun buat selamatin pernikahan kita, karena ini lebih dari permintaan ibu ku. Ini pernikahan yang aku impikan akan hanya terjadi sekali seumur hidup. Aku gak mau cerai. Makanya aku berusaha sama kamu Mas. Kamu tanya perasaan aku? Ini perasaan aku. Aku gapapa selagi kamu disini, coba pertahanin hubungan kita."
Ajeng menggenggam tangan suaminya yang menunduk ragu. "Aku gapapa Mas."
Perkataan sang istri membuatnya mengangkat pandangannya. "Maafin aku Jeng, tapi kamu pantes dapetin suami yang lebih dari aku. Yang bisa kasih kamu dunianya, aku gak."
"Kita bisa usahain pernikahan ini, aku bakal—"
"Gak,” Gema mengeleng. "Aku gak bisa nyakitin perempuan lain lagi."
"KAMU BISA MAS!"
Ajeng terengah. "Kamu bisa lupain dia, kamu yang gak mau mas."
"Gak segampang itu aku lupain dia Jeng, 3 tahun aku bareng sama dia."
"Kamu coba gak?" Teriak Ajeng. "Hah? Mas berusaha gak kayak aku berusaha ke Mas?"
Keduanya terhenti. Mencoba mengatur emosi mereka yang memuncak. Keduanya menampilkan ekspresi yang sama. Nafas terengah, alis yang terpaut, dan tangan yang mengepal.
Ada sedikit perasaan lega dicampur takut kalau-kalau suaminya malah akan mencampakkan nya setelah ini. Tapi selama ini memang dia selalu tidak dipedulikan kan? Jadi kenapa harus takut lagi.
Tak pernah ia mengemis sebegini hanya untuk cinta pria. Andai saja ibunya melihat, mungkin dapat menggagalkan keputusan pernikahan ini walau hanya sedikit.
"Silahkan Mas coba seperti apa yang aku lakuin selama ini. Setelah itu, Mas bisa datang lagi tanyain tentang perasaan aku."
Kali ini bukan Gema yang pergi meninggal tempat. Melainkan Ajeng, wanita yang selama berbulan-bulan mencoba untuk mempertahankan haknya sebagai istri sah dengan baik. Yang tak pernah sedetik pun dinilai baik pula oleh suaminya.
Sesaat setelah ia mengunci diri di dalam kamar, ia pun membuka handphone nya untuk menghubungi seseorang.
"Hari ini kamu libur yah, gak usah lakuin tugas kamu dulu." Hanya itu, tanpa menunggu balasan dan langsung mematikan telepon sepihak.