Bukan Orang Ketiga | BAB 15

1015 Kata
Suasana villa itu sedikit lebih hangat dari pada sebelumnya. Tari tersenyum pada laki-laki yang duduk di depannya kini. Keduanya menikmati sarapan sambil berbincang damai. Akhrnya wanita itu memilih berdamai dan menerima Gema tanpa mengesampingkan rasa bersalahnya. Perasaan itu masih menyelimuti, dan ada satu hal yang akan membuatnya lebih baik. "Aku mau tinggal bareng Ajeng." Gema tersedak sebentar lalu buru-buru mengambil gelas berisi air di depannya kemudian meneguk hingga habis. Laki-laki itu lalu menatap Tari sambil meneliti setiap ekspresi yang di keluarkan oleh wanita itu. Dengan takut-takut Gema bertanya. "Kamu serius?" Laki-laki itu berdehem pelan. "Aku gapapa kok kalau harus bolak-balik urusin kerjaan terus kesini lagi." Tari mengangguk mantap. "Aku mau damai sama perempuan itu. Aku gapapa kok." Entah apakah pilihannya itu pantas atau tidak. Tapi bagi wanita itu sekarang, ia tidak mau bersembunyi lagi. Tari hanya bisa tenang jika dapat berdamai dengan Ajeng. Gema di depannya pun sedikit kebingungan pula. Ia menimbang-nimbang permintaan Tari yang sedikit unik. Menyatukan kedua wanita itu bukan ide yang bagus menurutnya. Tapi melihat Tari yang bersusah payah untuk menerima dia, akhirnya membuat Gema pun menyetujui hal itu. Ia menghabiskan sisa sup nya dengan terpaksa tanpa rasa minat lagi di dalamnya. Gema pun bersiap-siap sementara Tari yang memang tidak membawa barang apapun hanya memilih duduk menunggu pria itu selesai mengurus administrasi. Mobil sedan itu akhirnya melenggang membelah jalanan padat di depannya. Meninggalkan villa terpencil yang telah memuat kenangan bagi keduanya. Gema menggenggam tangan Tari yang duduk di sebelahnya, sementara tangan satunya lagi mencengkram erat setir kemudi. "Nanti kita singgah beliin kamu handphone baru yah." Tari akhirnya tersadar sesuatu. "Oh iya! Handphone aku kamu taro dimana emangnya?"" Laki-laki itu terkekeh. "Selama itu kamu baru sadar?" Dia tersenyum. "Ketinggalan di penginapan pas aku culik kamu." (Baca part 7) Tari berdecak. "Kamu sih!" "Iya nanti aku beliin yang baru sayang~" Gema menggoda dengan menekankan suaranya. Wanita itu menganga terkejut. Dengan refleks dia menepuk lengan Gema. "Apaan sih!" Sambil tersenyum malu. Rasa senang menyelimuti d**a laki-laki itu. Ia bahagia dengan kehadiran Tari di hidupnya. Momen ini adalah momen yang sudah lama ia impikan. "Padahal aku mau ketemu sama Ibu loh.." Gema menengok. "Tenang aja, aku suruh asisten aku buat selalu cek keadaan ibu kamu kok." "Kita gak bisa liat ibu hari ini kah?" . "Kita kan mau belli handphone, terus kamu harus ketemu Ajeng. Kita sibuk loh hari ini." Tari menunduk. "Yaudah deh, besok yah?" Hal itu membuat Gema mengangguk. Perjalanan masih panjang di depannya. Jarak antara villa dan rumah Gema itu cukup jauh. Apalagi memang lokasi villa cukup terpencil. Tapi dengan itulah Gema bebas nenghabiskan waktu dengan wanita yang sudah lama ia inginkan. Tari tersenyum di sebelahnya sambil menggenggam tangannya hangat. Terlalu menyenangkan hanya untuk menjadi kenangan. "Eh aku suka lagu ini deh, Mas." Kata Tari setelah mengotak-atik handphone Gema yang tersambung dengan bluetooth mobil. Gema menoleh. "Oh selera musik kamu yang itu yah sekarang. Jazz gitu yah." Tari mengangguk semangat. "Pas aku kerja di Cafe aku bebas tau mau muter lagu apa aja." Laki-laki itu tersenyum. "Iya, nanti di rumah kamu juga bebas kok muter lagu apa aja." Sontak wanita itu kepikiran. "Apa aku kerja lagi aja yah?" Gema menoleh sebentar lalu fokus lagi ke jalanan. Sebenarnya ia mau kalau Tari hanya fokus pada dirinya tanpa harus kelelahan. Tapi sepertinya wanita itu lebih senang jika bergaul dengan teman-teman nya di Cafe itu. "Terserah kamu aja sayang. Asal gak kecapean loh yah." Tari mengangguk pasti. "Okay bos!" Keduanya kembali menikmati perjalanan sambil berbincang dan sesekali bernyanyi bersama. Waktu berjam-jam di mobil terlewat begitu saja bagi kedua pasutri itu. Hingga sampai lah mereka di rumah yang di tuju. Tiang penyangga yang menjulang berwarna gold dipadukan dengan cat dinding berwarna putih. Beberapa lampu hias juga turut meramaikan halaman depan rumah itu. Dengan sigap para satpam membuka pagar yang lebar saat melihat kepala Gema yang menyembul keluar dari jendela. Ia lalu memarkirkan mobilnya di garasi. Laki-laki itu turun lebih dulu dari mobil. Ia lalu berbalik menuju pintu di seberang dan membukakannya untuk Tari. Wanita itu keluar sambil memegang tanan Gem dengan mesra. "Mas! Kamu udah pulang?" Suara wanita menggema dari dalam rumah yang beradu dengan sandal rumah yang dikenakan nya. Ia lalu berdiri membeku saat melihat sang suami menggandeng wanita lain hendak masuk ke rumah mereka. "Ajeng." Gema bersuara lebih dulu. Sementara wanita dengan piyama satinnya itu berjalan mundur. "Kenapa dia ikut?" Tanyanya dengan nada kaget. Gema menghembuskan nafas lelah. "Kita bicara di dalam." Wanita iu menggeleng pelan. "Nggak!" Dia berdiri di depan pintu rumahnya yang terbuka dengan tangan yang terangkat naik. "Dia nggak boleh masuk." Tari mencengkram erat lengan Gema dengan getir. Dia menunduk dalam-dalam kebingungan hendak melakukan apa. "Berani-beraninya kamu bawa perempuan itu!" Ajeng berteriak yang membuat Tari perlahan bersembunyi di belakang punggung tegap Gema. Gema menyernyitkan dahinya. "Kita masuk atau gak sama sekali!" Bentaknya Ajeng menggeleng pelan. Matanya menangkap sosok yang berdiri di belakang suaminya itu dengan tatapan tak percaya. Ia lalu berlari masuk dengan perasaan kecewa. Ia mengunci dirinya di kamar. Berjongkok memeluk lututnya sendiri. Semenara Tari dan Gema berjalan masuk dengan pelan ke dalam rumah. "Aku—” Gema memegang lembut tangan Tari yang sudah gemetar gugup. "Udah gapapa. Dia emang kayak gitu." Meski ini adalah pilihannya, tak dipungkiri bahwa Tari juga merasa ketakutan. Mau sebanyak apapun Gema berusaha menenangkannya, ia tetap gemetar menghadapi situasi ini. Respon Ajeng membuatnya sedikit shock. Meski ia memang sudah menebak apa yang akan terjadi. "Panggil Ajeng ke ruang tamu sekarang!" Perintah Gema pada salah satu pembantu yang ada di situ. "Baik, Pak." Gema lalu menuntun Tari untuk duduk di sofa besar itu bersama. Laki-laki itu kembali mengalungkan tangannya ke pinggang kecil Tari sementara tangan satunya menggenggam erat jari jemari wanita itu. Keduanya harus menunggu beberapa menit hanya untuk kehadiran Ajeng di ruangan itu. Gema sudah jengah dengan tingkah laku kekanak-kanakannya. Tapi sebelum ia memutuskan untuk berdiri menangani Ajeng, sosok yang di tunggu pun akhirnya nampak. Matanya terbelalak melihat penampilan Ajeng yang berubah seratus delapan puluh derajat daripada penampilan yang sebelumnya. Ia memakai dress hijau zamrud lengkap dengan cincin dan kalung berliannya. Gema hanya mampu bernapas sabar melihat kelakuan wanita itu yang seolah sedang adu kecantikan sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN