Reza memarkir mobilnya di depan rumah keluarga Wijaya, lalu bergegas turun setelah mematikan mesin. Dia berjalan memasuki rumah yang pintunya terbuka. Tanpa mengucap salam, Reza memanggil Rafa dengan suara yang agak keras. “RAFA.” Reza berjalan masuk semakin ke dalam rumah. Dia melihat Rafa sedang bermain bersama Arif dan Raya di ruang keluarga. Mereka bertiga langsung menoleh begitu melihat Reza memasuki ruang keluarga. “Rafa,” ucap Reza, menghela napas lega. “Papa,” balas Rafa, tersenyum senang melihat kehadiran Reza. “Masuk rumah bukannya mengucap salam malah teriak-teriak. Ada apa sih, Za?” tanya Raya, dengan raut wajah heran. “Enggak ada apa-apa, Ma. Aku cuma kangen sama Rafa,” dusta Reza, mendudukkan diri di sebelah Rafa. “Kamu seperti nggak pernah bertemu Rafa saja, Za,” kome