Kalau kau tahu dari dulu…” Ia mendekat satu langkah. “Apa itu berarti kau tidak akan pernah meninggalkan aku?”
Pertanyaannya melayang di udara seperti pisau yang dilempar tepat ke arah d**a Angel.
Ia terdiam. Kata-kata itu mengguncang lebih kuat daripada yang ia bayangkan. Selama ini, ia mengira hanya dirinya yang merasa ditinggalkan. Ternyata di balik keangkuhan Nathan, ada luka yang sama dan kini, keduanya kembali berdiri di titik di mana semuanya berantakan dulu.
Angel menatap Nathan dengan tajam, menahan emosi yang sudah bertahun-tahun tertahan.
“Aku tidak pernah melihat seseorang dari latar belakangnya,” ujarnya pelan namun tegas. “Kau tahu itu, Nathan.”
Nathan mengalihkan pandangannya, melangkah sedikit menjauh. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya, gerakannya tampak tenang tetapi nada suaranya dingin.
“Mana aku tahu?” katanya tanpa menoleh. “Siapa tahu kau sudah berubah. Atau… mungkin sikap aslimu memang seperti itu.”
Ucapan itu menusuk lebih dalam daripada teriakan. Angel mendesah panjang, menyadari percakapan ini hanya akan kembali membuka luka yang sama tanpa penyelesaian.
“Presdir Nathan,” katanya sambil merapikan map di tangannya, berusaha menjaga nada suaranya tetap profesional, “aku masih punya banyak pekerjaan. Mulai sekarang… lebih baik kita hanya membicarakan urusan kantor.” Ia menundukkan kepala sedikit, sebuah salam dingin yang ia paksa demi menjaga wibawanya.
Tanpa menunggu balasan, Angel berjalan menuju pintu. Ia membuka gagang pintu dengan tangan yang sedikit bergetar, lalu keluar dari ruangan, meninggalkan aroma ketegangan yang belum benar-benar reda.
Nathan tetap berdiri di sana, membelakangi pintu, bahunya kaku, rahangnya mengeras. Ia menatap meja rapat kosong, seolah di sanalah jawabannya berada, lalu menyumpah kecil dalam hati.
***
Angel menutup pintu ruangannya perlahan, seakan takut suara kecil sekalipun bisa membuat seluruh emosinya runtuh. Begitu pintu tertutup rapat, ia bersandar pada permukaannya dan menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Napas yang penuh beban, kebingungan, dan sedikit penyesalan.
Ia berjalan menuju meja kerjanya, meletakkan map dengan sembarang sebelum menjatuhkan diri ke kursi empuk yang baru sehari ini ia nikmati. Ruangan yang tadi terasa seperti pencapaian, kini terasa menekan. Dinding-dindingnya seakan memantulkan kembali kejutan yang barusan ia alami.
Angel menutup wajahnya dengan kedua tangan. Siapa sangka? Setelah malam panas yang tak seharusnya terjadi, setelah ia bersumpah tak ingin lagi berurusan dengan masa lalu, setelah ia memaksa dirinya percaya bahwa tiga tahun itu sudah cukup untuk melupakan… justru begini cara dunia mempermainkannya.
Angel mendongak, menatap langit-langit ruangan seakan mencari jawaban. “Apa sebenarnya yang Tuhan rencanakan?” batinnya lirih.
Ia tidak tahu apakah ini kesempatan kedua, hukuman, atau sekadar kebetulan kejam.
Namun yang pasti, takdir seperti sedang menertawakan usahanya untuk move on.
***
Malam harinya, Angel dan Bella duduk di salah satu restoran mewah yang Bella pilihkan, ruangan dengan lampu kekuningan lembut, musik piano yang mengalun pelan, dan aroma anggur yang memenuhi udara. Angel menepati janjinya untuk mentraktir makan malam, dan segelas wine membuat pipi mereka berdua sedikit memerah.
Bella meletakkan gelasnya setelah menyeruput pelan. “Jadi, bagaimana hari pertamamu bekerja di kantor pusat?” tanyanya dengan senyum lebar, jelas antusias.
Angel memainkan garpu di piringnya. “Biasa saja,” jawabnya, mencoba terdengar santai. “Hanya ada sedikit… gangguan.”
Seketika wajah Nathan terlintas begitu jelas di kepala Angel, sampai-sampai ia harus meneguk wine-nya lagi untuk menutupi kekakuan ekspresinya.
Bella mengernyit, tidak mengetahui apa pun. “Gangguan? Apa maksudmu? Anak buahmu tidak menurut? Atau kau bertengkar dengan seseorang?”
Angel hampir tersedak oleh tebakan itu karena Bella nyaris tepat. Ia buru-buru menggeleng sambil meraih serbet, menyembunyikan keterkejutan di balik tawa kecil.
“Tidak… tidak separah itu. Bukan hal penting.”
Bella menatapnya curiga, lalu mengangkat alis sambil menyandarkan tubuh. “Kalau sampai seseorang mengganggumu, singkirkan saja. Kau punya kuasa, Angel. Kau sekarang manajer pemasaran kantor pusat.”
Angel tertawa, kali ini lebih lepas, membayangkan wajah Nathan jika benar-benar disingkirkan oleh dirinya.
“Andai aku bisa melakukannya,” gumamnya dengan nada setengah putus asa, setengah geli.
Bella mengangkat gelasnya untuk bersulang. “Kalau begitu, selamat untuk hari pertama yang… penuh kejutan, sepertinya.”
Angel menegakkan gelas. Wine itu menghangatkan tubuhnya, namun tidak cukup untuk menghilangkan bayang-bayang pria yang menjadi gangguan terbesarnya hari itu.
Bella meletakkan gelasnya, pipinya sudah sedikit merah karena wine. “Aku ke toilet dulu ya,” katanya bangkit sambil merapikan bajunya.
Angel mengangguk. “Pergi saja. Aku akan bayar dulu… lalu lanjut ronde kedua?”
Bella langsung mengacungkan jempol tinggi-tinggi sebelum berjalan pergi. “Setuju!”
Angel tertawa kecil dan mengambil tasnya. Ia menuju kasir sambil memikirkan lagu apa yang akan ia nyanyikan setelah ini. Namun langkahnya terhenti ketika seseorang muncul dari arah berlawanan, terlalu cepat untuk ia hindari. Dan mereka berakhir bertabrakan.
Tubuhnya sedikit terdorong, dan aroma parfum yang sangat ia hafal menyeruak begitu dekat.
Angel mendongak.
Mata mereka bertemu.
Nathan.
Mabuk ringan yang tadi membuat kepalanya terasa hangat langsung lenyap seketika. Rasanya seperti disiram air dingin.
“Kenapa… harus dia? Di kota sebesar ini, di restoran sebanyak ini… kenapa Tuhan begitu iseng?” batinnya.
Nathan menyipitkan mata melihatnya. Bibirnya terangkat dalam cibiran kecil. “Sepertinya gajimu besar sekali, sampai bisa makan di tempat seperti ini.”
Angel mendengus, membalas tatapan itu tanpa gentar. “Kau pasti tahu lebih baik daripada aku. Bagaimanapun juga, kau presdir perusahaan. Gaji semua orang kan lewat tanganmu.”
Nathan hendak membuka mulutnya tetapi sebelum kata-katanya keluar, tangan seorang wanita tiba-tiba melingkar di lengan Nathan.
Wanita muda itu mengenakan gaun mini berkilau, tubuhnya sedikit limbung karena alkohol. Wajahnya cantik dan dirias sempurna, bibir merahnya melengkung manja.
“Nathan… kenapa lama sekali?” katanya dengan suara sengau, manja, dan jelas mabuk.
Angel berdiri mematung sejenak. Kemudian ia tertawa kecil, tawa getir yang ia tahan agar tidak pecah menjadi ejekan.
“Jadi ini Nathan sekarang. Buaya darat. Luar biasa.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Angel mengalihkan pandangannya, melangkah menuju kasir. Ia membayar tagihan mereka. Setelah selesai, ia menundukkan kepalanya dan segera pergi dari sana, melewati Nathan dan wanita itu tanpa menoleh lagi.
“Nathan! Aku merindukanmu. Ayo kita ke dalam,” suara manja gadis bergaun mini itu menggema, sementara tangannya kembali mencoba meraih lengan Nathan.
Namun Nathan menepisnya kasar. “Jangan sentuh aku. Aku datang ke sini untuk menolak perjodohan kita.”
Gadis itu terperanjat. “Apa maksudmu? Kamu datang ke sini untuk menolak perjodohan kita? Kenapa? Apa kurangnya aku?”
Nathan menghela napas, wajahnya dingin namun tajam. Ia lalu mengangkat tangan, menunjuk lurus ke arah Angel yang hampir mencampai pintu restoran.
“Karena wanita itu adalah pacarku.”
Dunia Angel berhenti berputar.
Kakinya terpaku. Nafasnya tercekat. Suara restoran menghilang mendadak, menyisakan detak jantungnya yang bergemuruh dalam telinganya.