“Selama ini aku memendam pertanyaan terbesarku, bukan secara tiba-tiba. Sungguh, bukan hanya sekedar masa lalu yang selalu menyelinap jadi mimpi burukku. Tetapi, aku memeluk pertanyaan tentang hari setelahnya. Daddy yang tidak pernah mengizinkan aku untuk menemuimu, Daddy yang marah setiap kali aku menanyakanmu dan kamu yang juga hanya menitip pesan untukku agar aku istirahat, berhenti mencemaskan dirimu.” Ungkapku secara terbuka pada Alyan yang kini jadi kekasihku. Setelah sekian tahun akhirnya aku berani mengatakannya dan itu pada Alyan. Tidak pernah pada siapa pun sebelumnya. “Aku memang minta pada Daddymu untuk menyampaikan pesan tersebut.” Aku mengernyitkan kening, bersamaan langkahku perlahan tapi pasti lalu menyatukan diri dengan Sofa di ruang kerjaku. Pembicaraan terlalu serius

