*** Aku menerima pelukan hangat Lia, tetap hati-hati karena terhalangi perut yang di dalamnya ada bayi kembar. “Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang” kataku balas ucapan belasungkawa dari Lia. “Sabar ya, Anna. Semua yang terjadi sudah takdir” aku tahu, tidak ada yang bisa melawan takdir. Aku mengangguk, “duduk yuk, Lia.” ajakku, Rian ditemani suamiku menghampiri Papa. Kulihat mereka bertiga sedang bicara. Lia terlihat berat sekali membawa perut besarnya, tapi dia tidak mengeluh sama sekali nikmati dengan baik. Sementara itu aku memandang Rian, sempat ada insiden yang buat nyawanya di ujung kematian sampai akhirnya bisa kembali ke pelukan keluarga, orang yang dicintai. Sedangkan Mama, tidak akan pernah kembali pada kehidupan kami. Perpisahan abadi adalah kematian.

