2. Halo, Kita Berjodoh

1113 Kata
"Ayolah Kak, aku tidak bisa menerima ini." Aku protes, menatap paspor di atas meja bergantian dengan sosok yang duduk gagah di balik meja kaca hitam yang elegan ini. "Kenapa tidak? Bukankah kau emang selalu ingin traveling? Ze, sudah waktunya kau mewujudkan impian itu." Sosok di depanku itu tidak mau kalah, membeberkan rencanaku. "Tapi, kerjaanku masih ---" "Kau tidak perlu khawatir akan hal itu, Zenata. Kinerjamu untuk desain perhiasan tahun ini lebih dari memenuhi target. Jadi ini adalah bonus untukmu, pergilah berlibur. Lupakan sejenak saja pekerjaan." Tatapan dan ucapannya tak lagi bisa aku bantah. Ini untuk kesekiannya berdebat untuk hal yang sepele. Aku menatap paspor milikku di atas meja kerjanya, ada tiket juga di sana. "Dan ini," jari tangan lentik dengan cincin berbentuk infinity itu mengetuk di atas sebuah tiket. "Kau selalu ingin menonton teater terbesar di Engpile, kan, Ze? Acaranya lusa, jadi jangan mikir lagi, pergilah sana. Nikmati hidupmu hanya untuk sekali saja." Tatapan mataku jatuh pada tulisan di tiket itu, The Class Vow. Ada sesuatu yang bergetar pelan di dadaku. Judulnya terdengar seperti janji yang pernah aku pegang terlalu erat, sampai aku lupa bahwa kaca, seindah apa pun itu tetap bisa pecah. Aku menghela napas, berpikir beberapa saat lantas mengangguk pelan. Mengiyakan bujukannya yang kesekian. Itu bukan karena aku benar-benar siap dan ingin, tapi karena setelah sekian lama, aku lelah melawan keinginan untuk pergi. Pelarianku akan luka adalah bekerja sampai lupa pada waktu dan diriku sendiri. Jadi aku pikir, menerima tiket itu bukanlah sebuah dosa, anggap saja istirahat sejak dari hal-hal yang membuatku lelah. "Baiklah. Aku akan pergi." Pada akhirnya aku menyuarakan keputusanku. Senyum wanita di depanku itu mengembang. Dia berdiri dari duduknya, berjalan cepat ke arahku lantas merengkuh tubuhku dalam pelukannya. Bisa aku rasakan pancaran bahagia darinya tak pelak membuat senyumku muncul. "Gitu dong. Payah kau, Ze. Masa butuh waktu buat ambil keputusan, sih. Ini kan cuma traveling, Zeze. Healing sesaat saja." Aku bisa menangkap kelegaan dari nada bicaranya. Dia tahu, wanita yang menjadi bos sekaligus kakak iparku ini tahu bahwa perjalanan ini bukan sekadar traveling, healing, atau apa pun sebutannya. Dia tahu terlalu banyak tentangku sampai aku tak mampu lagi menolak apa yang telah dia siapkan kali ini. *** Dan di sinilah aku berada. Di depan sebuah bandara internasional Engpile. Aku berdiri di bawah cahaya putih bandara internasional Engpile yang terasa terlalu terang untuk malam setenang ini. Jam di dinding menunjukan hampir tengah malam, tapi terminal masih hidup. Langkah kaki, roda koper yang diseret, dan pengumuman keberangkatan yang terdengar jauh seperti tidak ditujukan untukku. Aku menarik napas panjang, membiarkan udara dingin memenuhi paru. Perjalanan panjang tadi menyisakan lelah yang meni lhm di bahu, tapi pikiranku justru lebih lelah dari tubuh. Paspor sudah kembali tersimpan rapi, tiket terlipat di dalam tas, dan kini yang tersisa hanya waktu, sebuah ruang kosong yang jarak aku miliki dengan leluasa. Aku melirik layar ponsel. Tidak ada pesan masuk. Aku mematikan layar benda itu lagi, berharap keheningan bisa memberiku izin untuk benar-benar istirahat. Di deretan kursi aku menunggu sambil mengamati sekitar, wajah-wajah asing yang berlalu-lalang, kebisingan yang tidak pernah berhenti. Tapi aku memilih untuk menyandarkan tubuh pada kursi, menunggu jemputan. Yang ingin aku lakukan hanya satu, tidur. Sampai esok pagi, aku akan memulai turku sendiri. *** Kebiasaanku saat pagi setelah matahari menampakan dirinya adalah membersihkan diri. Aku sudah mengatur jadwal untuk seharian ini. Sudah juga mengatur beberapa barang yang perlu aku bawa selama tur, termasuk tiket untuk tester nanti malam. Semua sudah, tinggal aku bersiap. "Morning in Bulipe, Engpile autumn." Aku menarik sudut bibir, tersenyum mengawali pagi di negara yang aku damba. Akhirnya, impianku terwujud. Aku akan bersenang-senang hari ini. Mengambil tas ransel yang di dalamnya terdapat perlengkapan untuk hari ini. Aku mengenakan mantel wol panjang berwarna camel, syal rajut kusampirkan longgar di leher. Sweater tupos dan celana gelap cukup menahan dingin musim gugur Bulipe, sementara ankle boots kulit membuat langkahku mantap menyusuri jalanan berbatu. Tujuan pertama aku sederhana, menuju ke sebuah kafe kecil di sudut distrik tua Bulipe. Dari luar, jendela besar dan berembun, seolah menyimpan kehangatan untuk siapa pun yang datang di pagi hari, aku terlalu pagi malah. Aku mendorong pintu kayunya, lonceng kecil berbunyi pelan. Aroma kopi langsung menyambutku, hangat dan akrab, seperti pagi yang tidak menuntut apa-apa dariku. The Quite Hour, sebuah kafe kecil yang hangat di pinggiran kota Bulipe. Aku memilih duduk di kursi dekat jendela, memperlihatkan pemandangan orang yang berjalan di luar, kendaraan yang melintas, dan pemandangan yang berbeda dari sebelumnya. Setelah memesan makanan, aku mengeluarkan buku harian, menuliskan sedikit kisah hari ini. Setidaknya, aku tak hanya mengabadikan perjalanan ini dalam sebuah foto tapi juga catatan. "Terima kasih," ucapku pada seorang pelayan yang mengantarkan pesanan. "Wanginya enak," kataku menatap hidangan di meja. Air liurku nyaris menetes. Uap tipis dari cangkir Earl Grey menghangatkan jemariku, aromanya lembut dan menenangkan. Aku menyantap makanan dengan tenang, menikmati suasana kafe The Quite House. Saat makan aku tidak suka bicara, lebih suka fokus dan menikmati rasa di lidah, jika enak aku akan datang lagi. Setelah selesai makan, aku menyandarkan punggungku, mengedarkan pandangan, mengabsen semua hal yang ada di kafe ini. Arsitektur, dekorasi, menu dan lainnya berteman klasik. Ini yang sejak dulu aku masukan dalam list liburuan. Menikmati ketenangan di sebuah kafe. Aku mengabadikan momen ini dengan ponsel. Kamera yang aku bawa tadi sudah mengabadikan beberapa momen. Aku akan menggunakannya nanti. Saat sibuk dengan hasil jepretan ponselku, seseorang menghubungi. Aku tersenyum kecil, sedikit berdecak lantas aku menerima panggilan itu. "Hai?" "Sialan! Apaan itu, Ze? Cuma hai?" Aku terkekeh kecil mendengar sahutan dari seberang sambungan. "Kau berlibur nggak bilang-bilang, sih, Ze. Gila!" Umpatan seketika terdengar, telingaku sakit tapi aku hanya bisa tertawa. Yah, rencana dadakanku memang tidak memberi tahu siapapun, hanya kakak iparku yang tahu. Bahkan kakakku sendiri tidak. "Yah, kau tau sendiri, Vi, kakakku itu sesuatu. Dia mendesakku, aku mana bisa menolak? Terlebih lagi dia memberiku tiket teater yang aku incar sejak lama," kataku santai. Viona, sahabatku itu berdecih di seberang. Aku tahu dia pasti paham. "Ye, ye, ye. Terserah kau saja, Ze. Tapi sebagai gantinya, aku mau titip oleh-oleh," katanya. Aku tertawa. Selalu begitu. "Oke. Beri aku uangnya." "Yeh, gak pake uangmu, Ze? Dasar pelit." Sekali lagi aku tertawa. "Zenata." Tidak. Suara itu bukan berasal dari sambungan, bukan pula suara Viona. Tapi suara itu terdengar begitu berat. Begitu aku mendongak, sial, senyum tengilnya masih sama. "Rheef?" Refleks mulutku melolosan satu nama itu. Sial! "Halo, Zenata. Kita memang berjodoh." Percaya diri sekali dia. Tapi tubuhku tegang, dadaku bergejolak. Sialan. Tolong jangan, jangan saat ini, tidak di depannya. "Boleh aku duduk?" Bahkan sebelum aku menolaknya, dia sudah menarik kursi kosong di depanku, duduk dengan santai layaknya seseorang yang baru saja bertemu kemarin sore. Aku hanya mampu diam, dengan tangan yang mengepal. Dia ... Kenapa ada di sini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN