Sebastian menangkap kedua pipi Farah dengan perasaan yang campur aduk.
"Gimana keadaan kamu sekarang? Apa sudah membaik? Haruskah kita pergi ke dokter untuk periksakan?"
Farah menggeleng. "Tidak perlu. Aku sudah pulih sepenuhnya. Kalau kamu mau lihat, aku bawa semua rekam medisnya."
Sebastian menghela nafas lega. "Syukurlah. Kita bicarakan itu lagi nanti. Sekarang ayo kita makan. Pasti kamu belum makan, kan?"
Farah menggeleng, "Belum."
"Ya udah ayo makan." Ajak Sebastian sambil memeluk pinggang Farah, membawanya menuju meja makan. Mendudukkannya tepat di sampingnya. Ia juga mengambilkannya nasi dan lauk Pauk dengan lengkap. Mengambilkannya sendok dan garpu. Memberikannya perhatian.
Farah baru bisa merasakan tatapan tajam mengarah padanya setelah semua itu. Siapa lagi jika bukan dari Amanda yang berada disisi lain Sebastian. Entah kenapa, melihatnya membuat Farah ingin semakin memanas-manasinya.
"Mas..." Panggil Farah dengan nada yang dibuat terdengar manja dan rapuh.
Bisa dipastikan bagaimana ekspresi Amanda saat itu. Sabrina Bahkan sampai menoleh tajam kearahnya.
Sebastian menoleh dan mengusap rambut Farah dengan sayang. "Ada apa? Apa kamu butuh sesuatu?"
Farah menatapnya dengan lemah. "Sebenarnya aku masih lemas karena aku baru saja kembali. Apakah mas bisa suapi aku?"
"Tentu saja, bisa." Jawab Sebastian.
Amanda langsung menoleh. Matanya terlihat melotot dan hampir melompat keluar. Begitu juga dengan Sabrina. Namun tidak separah istri keduanya Sebastian.
Akhirnya Farah benar-benar disuapi. Dan sepanjang itu, Amanda terus menimbulkan bunyi gaduh di kursinya. Namun hanya dengan usaha kecil Farah, ia mampu mengambil alih perhatian Sebastian sepenuhnya padanya.
****
"Sarah baru saja kembali, tapi kamu sudah mengabaikan ku. Kamu lupa kalau aku lagi hamil anakmu?" Tanya Amanda dengan tatapan yang memprotes.
Sebastian yang baru saja masuk kedalam kamar bersamanya hanya menggeleng dengan tenang sambil melepaskan pakaiannya. Mengambil kaos santai dari lemari lalu memakainya.
"Sarah itu masih istriku. Dia patut mendapatkan perhatian lebih karena sudah menjauh dariku selama satu tahun. Apa lagi, dia telah mengalami hal yang sulit tanpa aku disinya. Dia pasti sangat sedih dan kesepian. Jadi aku akan menebusnya." Ucap Sebastian.
Amanda semakin tak terima mendengarnya.
Awalnya ia ingin mengatakan ia akan baik-baik saja kalau sebastian mau bersikap adil, tapi saat pria itu terlihat mengambil bantal dan selimut dari lemari, Ia marah.
"Mas. Kamu mau kemana?"
Sebastian berhenti dan menoleh ke arah Amanda. "Aku akan tidur di kamar Sarah. Kamu gak apa-apa kan aku tinggal sendiri?"
"Apa?" Amanda melotot marah. "Kamu mau tidur di kamar Sarah? Gak bisa. Gak bisa." Ia berjalan mendekati Sebastian. Hendak mengambil selimut dan bantal dari tangannya. Namun Sebastian menahannya.
"Mas, aku ini istri kamu, dan aku lagi hamil anak kamu. Seharusnya aku yang kamu beri perhatian lebih. Dia memang sudah mengalami hal yang sulit. Tapi dia baik-baik saja kan, sekarang? Dia sangat sehat kan? Anak kamu membutuhkan kamu dari pada dia—"
"Siapa bilang aku tidak membutuhkan dia?"
Suara dipintu memotong ucapan Amanda.
Sebastian dan Amanda menoleh.
Farah berdiri di ambang pintu dengan pakaian tidurnya. Ia menatap Amanda, lalu berjalan ke arah Sebastian dan berdiri di hadapannya.
"Sebenernya, setelah aku mengingat semuanya, aku selalu kesulitan untuk tidur. Terkadang aku selalu dihinggapi mimpi buruk hampir setiap malam." Ungkap Farah dengan nada yang terdengar cukup sedih.
Sebastian meraih kedua tangannya dan menggenggamnya. Tatapannya penuh rasa bersalah.
"Maaf, ini semua salahku."
"Gak apa-apa. Sekarang mungkin aku bisa tidur nyenyak kalau ada Mas yang menamani." Ucap Farah.
"Iya. Mas pasti akan temani kamu." Balas Sebastian.
"Mas." Amanda menatapnya tak percaya. "Gak bisa gitu dong. Anak kita gak bisa tidur kalau gak ada Ayahnya!"
"Amanda—"
"Amanda." Potong Farah. "Kamu pasti mengerti perasaanku, aku masih takut untuk tidur sendiri. Anak kamu juga pasti akan mengerti kalau Ayahnya perlu menemani Ibunya yang lain yang tengah ketakutan."
Amanda menatapnya tak percaya. "Pemikiran macam apa itu. Bisa-bisanya kau—"
"Aduh, mas, kepalaku juga pusing." Farah memegangi kepalanya sambil meringis kesakitan. "Setelah aku berhasil ingat semuanya, kepalaku masih sering sakit."
"Sayang, kamu gak apa-apa?" Tanya Sebastian khawatir sambil meraih tubuh Farah untuk bersandar di dadanya. "Apa kamu sering seperti ini?"
Farah mengangguk dalam dekapannya, "Iya, Mas. Duh, sakit..."
"Ya udah ayo kita kembali ke kamar kamu. Mungkin kamu perlu istirahat." Ucap Sebastian sambil menggendong Farah seperti gendongan putri.
"Mas.." panggil Amanda. Seolah tak rela dan tak ingin membiarkan Sebastian pergi dari kamarnya.
Langkah Sebastian terhenti di pintu. Ia menoleh ke arah Amanda sebentar.
"Farah sedang butuh aku. Dia masih istri aku. Aku harap kamu mengerti, Amanda." Ucapnya tegas sebelum melanjutkan langkahnya.
Amanda terdiam dengan wajah kesal. Kakinya dihentakkan dengan keras seakan masih tak terima. Kedua matanya menatap tajam Farah yang berada dalam gendongan Sebastian.
Namun yang tak ia sangka adalah saat kepala Farah berputar dan menoleh ke arahnya. Wanita itu tiba-tiba menyunggingkan senyum licik ke arahnya.
Amanda langsung murka. Melemparkan pas bunga ke kusen pintu sambil berteriak.
Tapi setelah beberapa menit berlalu tak ada yang datang untuk melihatnya, begitu juga dengan Sebastian. Hal itu membuat Amanda memilih untuk menutup pintu dengan kencang.
"Sialan wanita itu!"
"Kenapa juga dia masih hidup?" Teriak Amanda kesal.
*****
Dikamar Farah.
Farah telah turun dari gendongan Sebastian, membiarkan pria itu menutup pintu kamar. Saat ini ia masih berdiri memunggunginya, membiarkan pria itu tak melihat ekspresi kebingungannya.
Karena ia tak tahu apa yang harus ia lakukan di kamar berdua saja dengan Sebastian.
Meskipun ia mengaku Sarah, namun ia tetap bukan istrinya kan?
"Kamu harusnya mengaku saja." Ucap Sebastian.
Farah berdiri tegak dengan ekspresi tegang.
"Mengaku apa, Mas?"
"Kamu pasti marah kan karena saat kamu kembali, kamu harus melihat aku mengkhianatimu?" Ucap Sebastian dengan perasaan bersalah.
Langkah pria itu terdengar mendekat.
"Tapi kamu jangan salah paham. Ini semua tidak seperti yang kamu lihat dan pikirkan." Ungkapnya.
Sebastian berhenti tepat di belakang Farah. Lalu meraih kedua bahu wanita itu dan memutar tubuhnya.
Kini keduanya bertatapan.
"Aku menikahi Amanda karena sesuatu yang tidak disengaja."
Tiba-tiba Farah merasa begitu penasaran.
"Maksudmu?"