Tok. Tok. Tok.
“Masuk.”
Ceklek.
Farah tertegun. Kali ini yang datang bukan pelayan, juga bukan Sebastian. Melainkan… Amanda—istri kedua Sebastian.
“Ckckck, manja sekali,” gumam Amanda sinis, sangat berbeda dengan wajah lembut yang biasa ia tunjukkan di hadapan Sebastian.
“Kalau bukan karena suamiku, aku tidak akan sudi melakukan ini,” lanjutnya dingin sambil meletakkan nampan di atas meja dengan sedikit hentakan.
Farah—yang tampak sebagai Sarah—tetap diam.
Melihat tak ada reaksi, Amanda melangkah mendekat. Tatapannya tajam, penuh rasa menang sendiri.
“Kenapa?” tanyanya mengejek. “Terkejut karena aku berhasil menikah dengan Sebastian?” Ia tersenyum miring. “Ya, sekarang dia suamiku.”
Amanda mendekat lebih dekat lagi.
“Apa kau tidak terima sampai-sampai bangkit dari kubur?”
Ia mencondongkan tubuh sedikit.
“Dengar baik-baik, Sarah. Aku bukan lagi tamu disini, sekarang aku sudah menyandang gelar NYONYA di rumah ini.” Suaranya merendah, tapi penuh ancaman. “Jadi mulai sekarang, jaga sikapmu. Bersikaplah sopan padaku.”
Setelah mengatakan itu, Amanda menoleh ke arah nampan makanan yang dibawanya.
“Sekarang makanlah. Cepat,” perintahnya dingin.
Farah memiringkan wajah, menatap Amanda yang berdiri dengan sikap berkuasa, memerintah seolah kamar itu miliknya. Dadanya terasa panas.
Apa selama ini Amanda memang memperlakukan Sarah seperti ini?
Informasi yang ia dengar sebelumnya terlintas di benaknya. Sebelum menikah dengan Sebastian, Amanda sering menginap di rumah ini atas perintah Sabrina untuk menemani beliau.
Lalu mengapa Sarah tidak pernah melawan?
Apa yang sebenarnya ditakuti kakaknya dari wanita seperti ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala Farah, bercampur antara kemarahan dan kebingungan—dan semakin menguatkan tekadnya untuk tidak lagi diam.
Farah berdiri, lalu menatap Amanda dengan sebuah senyum tipis. Ia melangkah mendekat perlahan, membuat Amanda kebingungan sekaligus waspada. Tanpa sadar, wanita itu mundur selangkah. Namun Farah justru terus mendekat, hingga jarak mereka nyaris tak ada.
Farah mencondongkan tubuh dan berbisik tepat di telinga Amanda.
“Tentu saja. Sebagai Nyonya, kau memang pantas dihormati,” ucapnya pelan namun penuh tekanan. “Tapi jangan lupa, kau hanyalah nyonya kedua.”
Farah berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih dingin.
“Statusmu lebih rendah dariku. Kaulah yang seharusnya bersikap sopan dan hormat padaku. Karena bagaimanapun juga, aku adalah istri pertama Sebastian.” Bibirnya melengkung tipis. “Nyonya Besar di rumah ini.”
Ia kemudian menjauhkan wajahnya, menatap langsung reaksi Amanda.
Amanda terkejut. Matanya membelalak, rahangnya mengeras.
“Apa yang kau katakan?” bentaknya. “Berani-beraninya kau berkata seperti itu padaku!”
Tangannya terangkat, hendak menampar wajah Farah.
Namun Farah bergerak lebih cepat. Ia menangkap pergelangan tangan Amanda dan mencengkeramnya kuat.
“Aah!” Amanda meringis, berusaha melepaskan diri karena kesakitan.
Farah menghentakkan tangannya dengan kasar, membuat Amanda terhuyung.
“Kau gila!” teriak Amanda penuh amarah. “Berani sekali kau melakukan ini padaku!”
“Ohh… jadi selama ini kau melarikan diri hanya untuk mengumpulkan keberanian, lalu kembali setelah merasa cukup kuat untuk melawanku?” Amanda tersenyum mengejek.
“Dengar baik-baik, Sarah,” lanjutnya dengan nada merendahkan. “Bagaimanapun juga, derajatmu jauh lebih rendah dariku. Kau hanyalah wanita miskin yang mengikat pria kaya. Wanita sepertimu tidak pantas berdiri sejajar denganku—apalagi mengangkat kepala di hadapanku.”
Amanda mendekat, menatap Farah dari atas ke bawah.
“Gelar Nyonya Besar hanya pantas untukku. Aku diakui oleh Nenek Sabrina, sementara kau hanya mengaku-ngaku. Kau bahkan lebih cocok menjadi pelayan di rumah ini.”
Ucapan itu diakhiri dengan dorongan keras ke bahu Farah.
Farah terkejut. Ia tak sempat menghindar. Tangannya refleks berpegangan pada meja, namun justru membuat seluruh isi nampan terjatuh dan berserakan di lantai. Bunyi pecahan piring dan gelas menggema keras di ruangan. Tubuh Farah ikut terjatuh, terduduk lemah di lantai.
Ia menatap Amanda, yang kini berdiri dengan senyum puas di wajahnya.
“Kenapa?” ejek Amanda. “Tak terima? Sudah kubilang kau jangan macam-macam—”
“Ada apa ini?”
Suara Sebastian tiba-tiba memotong suasana. Ia masuk tanpa mengetuk pintu.
Amanda langsung panik.
Farah menahan napas, lalu berkata dengan suara lemah dan mata berkaca-kaca, “Aku… aku hanya ingin makan. Tapi dia bersikap kasar padaku.”
Ia menoleh ke arah Amanda, suaranya bergetar. “Jika kau memang tidak menyukaiku, kau tidak perlu repot-repot mengantarkan makanan untukku.”
Amanda terperangah.
“Apa maksudmu, Amanda?” tanya Sebastian tajam. Ia segera membantu Farah berdiri. “Sebaiknya kau jelaskan padaku.”
Amanda tergagap, wajahnya pucat. “A-aku hanya… aku tidak—”
“Kenapa? Ada apa ini?”
Nenek Sabrina tiba-tiba muncul di ambang pintu setelah mendengar keributan. Ia terkejut melihat pecahan piring dan gelas berserakan di lantai, kamar itu tampak berantakan.
“Ya Tuhan…” gumamnya.
“Nenek, ini bukan salahku,” ujar Amanda cepat, berpura-pura polos. “Dia sengaja menjatuhkan dirinya sendiri agar bisa memfitnahku.”
Nenek Sabrina menatap Farah dengan sorot mata penuh tuduhan.
“Kau baru saja kembali ke rumah ini, tapi sudah membuat keributan,” ucapnya dingin. “Padahal selama setahun ini, rumah ini begitu damai dan tenteram.”
Ia melanjutkan tanpa memberi Farah kesempatan bicara.
“Sejak dulu kau memang tidak pernah menyukai Amanda. Padahal dia selalu bersikap baik padamu. Sebagai istri kedua, dia bahkan tidak berani menempati kamar besar ini demi menghormatimu. Tapi kau—”
“Nenek,” potong Sebastian tegas. “Jangan menilai hanya dari satu pihak. Nenek bahkan belum mendengarkan penjelasan dari Sarah.”
“Apa lagi yang perlu kudengar?” balas Sabrina tajam. “Ini bukan sekali dua kali terjadi. Selama Sarah menjadi istrimu, dia tidak pernah benar-benar menghormati Amanda—bahkan ketika Amanda masih berstatus tamu di rumah ini.”
Nada suaranya meninggi, sarat keyakinan.
“Apalagi sekarang, setelah dia tahu Amanda telah menjadi istrimu. Sudah pasti dia membencinya. Karena itu dia melakukan segala cara untuk menyingkirkan Amanda dari rumah ini.”
Sabrina menatap Sebastian lekat-lekat.
“Kau terlalu sering berada di kantor, Sebastian. Kau tidak pernah tahu bagaimana sifat aslinya. Tapi aku melihat semuanya. Aku menyaksikan sendiri bagaimana perlakuannya terhadap Amanda selama ini.”
Farah terpaku.
Dalam hati, ia nyaris terkekeh pahit. Harus ia akui, nenek Sabrina benar-benar pandai memutarbalikkan keadaan. Begitu licik, begitu meyakinkan. Tidak heran jika Sebastian perlahan mulai diracuni pikirannya.
Sekilas, bayangan kecelakaan Sarah kembali terlintas di benaknya.
“Tolong, jangan katakan hal-hal seperti itu di depan istriku,” ucap Sebastian dengan nada tertahan. “Dia baru saja kembali setelah selamat dari maut.”
“Selamat dari maut atau tidak, itu bukan alasan,” balas Nenek Sabrina dingin. “Kau juga harus membuka matamu lebar-lebar, Sebastian. Jangan terus-menerus membelanya hanya karena kau mencintainya. Kau harus bersikap adil. Bukankah barusan kau sendiri yang mengatakan itu? Amanda juga istrimu.”
Sebastian terdiam.
Napasnya tertahan sejenak seolah sedang menimbang sesuatu yang berat. Tatapannya bergantian jatuh pada Nenek Sabrina, lalu pada Farah yang berdiri dengan wajah pucat, dan terakhir pada Amanda yang kini tampak mmenundu.
“Aku tidak sedang membela siapa pun secara membabi buta,” ucap Sebastian akhirnya.
Ia menoleh pada Farah, lalu kembali menatap Sabrina.
“Sarah baru kembali. Dia belum sepenuhnya pulih, baik secara fisik maupun mental. Jika memang terjadi sesuatu, seharusnya kita mendengarkan semua pihak, bukan langsung menyimpulkan.”
Sebastian menarik napas dalam, seakan menahan emosi.
“Amanda memang istriku. Tapi Sarah juga istriku. Dan selama aku masih menjadi kepala keluarga ini, aku tidak akan membiarkan salah satu dari mereka diperlakukan tidak adil—termasuk dengan tuduhan sepihak.”
Tok tok tok
Semua orang menoleh.
“Per-permisi, Tuan… Nyonya…” pelayan itu menyela dengan suara hati-hati, nyaris bergetar. “Mohon maaf jika saya mengganggu, tapi Dokter Anwar sudah tiba,” ucapnya memberi tahu.