Malam itu, setelah suasana di ruang makan mulai tenang, Farah berdiri perlahan, membawa buket bunga ke kamarnya. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar, ia menatap sebentar kelopak bunga yang mulai sedikit layu akibat insiden siang tadi. Meski begitu, aroma mawar tetap menyebar harum, dan Farah menahan senyum tipis. Ia menyadari betapa perhatian Sebastian malam ini melebihi ekspektasinya. Tapi di balik rasa hangat itu, ia tetap waspada. Amanda dan Sabrina masih berada di ruang makan, dan ketegangan yang tersisa membuatnya tak bisa lengah. Begitu Farah masuk ke kamarnya, Sebastian muncul tak lama setelahnya, menutup pintu dengan lembut. “Sayang, aku ingin memastikan kau sampai kamar dengan aman,” ucapnya, matanya menatap Farah dengan campuran perhatian dan kecemasan yang sulit disembunyi

