Vina gusar, sedari tadi berusaha terhubung dengan seseorang namun tak mendapatkan hasil yang memuaskan. Selalu panggilan tidak dijawab yang terdengar olehnya, kali ini Vina tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ia berdecak lalu menggerutu sendiri di dalam kamarnya. “Sialan, kenapa sampai sekarang belum ada kabarnya? Dia berhasil nggak sih!” Geram Vina, setelah menggantungkan semua harapannya kepada pria bayaran itu untuk mengambil darah Kirana, kini yang bisa Vina lakukan hanya bisa menunggu dari satu pihak saja, menanti dihubungi tanpa bisa berkutik lebih jauh jika upaya yang dilakukannya terus mendapatkan respon begitu. “Kalau dia tidak berhasil, wajahku nggak ada harapan lagi....” Desis Vina, ketakutan yang semakin mencuat dan memprovokasi ketenangannya. Ancaman yang tidak main-main,

