“Aku bisa membuatmu lengser dari posisi permaisuri, dan menggantinya dengan Xin Yao. Kau tahu aku bisa melakukannya kapan saja.” Permaisuri tersentak, wajahnya pucat seketika. Ia memandang Kaisar dengan hati remuk, tak percaya lelaki yang dulu pernah ia perjuangkan kini tega mengancamnya demikian. “Aku … aku mengerti, Paduka,” ucapnya terbata, lalu perlahan mundur sambil menundukkan kepala. “Ampuni kelancangan hamba.” Kaisar Zhen kembali duduk, tanpa menoleh lagi. “Pergilah. Aku tidak ingin mendengar suaramu lagi malam ini.” Dengan langkah gemetar, permaisuri meninggalkan ruangan. Air matanya jatuh deras, hatinya hancur berkeping-keping. Di balik pintu, ia menggenggam erat kain bajunya. “Xin Yao …” bisiknya penuh kebencian. “Kau boleh merebut hati Kaisar. Tapi aku akan pastikan, kau t

