Clarissa menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. “Silahkan, mas!” Clarissa pasrah dengan apa yang ingin suaminya lakukan.
Dan…
“Aaahhh..” keduanya melenguh panjang ketika penyatuan
“Sshh..” Clarissa terlihat sedikit kesakitan sekaligus menikmati.
Darren terdiam sejenak untuk menetralisir rasa sakit yang dirasakan istrinya. “Sakit?” tanyanya sembari mengelus pipi Clarissa
“Sedikit, mas.”
“Tahan, ya! Sebentar rasa sakit itu akan berubah.”
Clarissa mengangguk pelan dengan tatapan sayu. “Hmm..”
Clarissa mencengkram punggung suaminya ketika Darren mulai bergerak. Ia memejamkan matanya kuat, rasanya campur aduk, ia tidak menjelaskan dengan kata-kata.
“Enghh..” lenguh Clarissa
Darren melakukannya sedikit kasar karena tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. “Mas, pelan!” ujar Clarissa dengan nada meracau
“S-saya tidak bisa pelan, Clarissa.”
“Enghh..”
“Mashh..” Clarissa terus mengeluarkan suara indahnya membuat Darren semakin bersemangat.
Tenaga Darren begitu kuat membuat Clarissa sedikit kuwalahan. Keringat membanjiri tubuh keduanya, namun hal itu tidak menjadi penghalangi. Darren tidak akan berhenti sebelum merasa puas. Bahkan pendingin ruangan seolah tidak ada fungsinya bagi mereka berdua.
“Sedikit lagi, sayang!” ujar Darren dengan nafas terengah
“Emhh..”
Dan…
“Aakkhhh..” keduanya melenguh panjang ketika mencapai nikmat dunia.
Brugh
“Huhh..” Darren mengatur nafas setelah selesai melakukannya.
Darren dan Clarissa menghirup udara sebanyak mungkin karena nafas keduanya hampir habis. Clarissa mencoba mendorong tubuh Darren namun tenaganya tidak cukup kuat untuk melakukan itu. Nafasnya hampir habis tapi Darren justru menimpa tubuhnya.
“Mas, berat!” ujar Clarissa sembari mencoba menyingkirkan tubuh suaminya
“Biarkan seperti ini dulu, sayang.”
“Tapi tubuh Mas Darren berat. Clarissa sesak, mas.”
Darren menatap wajah Clarissa dengan tatapan sayu. “Mau saya kasih nafas buatan!?”
“Enggak.” dengan cepat Clarissa menutup mulutnya.
Darren terkekeh geli melihat respon istrinya. “Siapa tahu butuh nafas buatan, saya dengan sigap melakukannya.”
“Itu kemauan Mas Darren sendiri.”
Cup
Darren mencium punggung tangan Clarissa yang menutup mulutnya. “Kamu masih sanggup?”
“A-apanya, mas?”
“Sekali lagi!”
Glek
Clarissa menelan ludahnya kasar. Lidahnya terasa keluh ketika ingin menjawab. Untuk menolak sekalipun ia tidak kuasa melakukan hal tersebut. Elusan di pipinya membuat Clarissa seketika luluh. Dan tanpa sadar ia menganggukkan kepalanya.
Melihat Clarissa mengangguk membuat Darren tersenyum manis. “Terima kasih.”
Dan, Darren kembali melakukannya setelah mendapat izin dari Clarissa. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Darren tidak akan pernah puas jika menyentuh istrinya. Begitupun dengan Clarissa yang hanya bisa pasrah dengan perlakuan manis suaminya.
***
Malam harinya
Tringg.. tringg..
“Enghh..” Clarissa merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku
Suara alarm mengganggu tidur Clarissa. Ia mengerjap pelan pertanda akan segera membuka mata. Salah satu tangannya bergerak mencari keberadaan ponselnya untuk mematikan alarm tersebut.
“Alhamdulillah.. masih diizinkan bernafas oleh Yang Maha Kuasa.” gumamnya setelah membuka mata
Clarissa menoleh ke samping dan ternyata suaminya masih tidur. Ia melihat layar ponselnya dan saat ini menunjukkan pukul sepuluh malam. Setelah melakukan hubungan Clarissa dan Darren langsung istirahat, bahkan mereka tidak terasa hari sudah memasuki tengah malam.
Tubuh Clarissa terasa sakit-sakit, bahkan serasa ingin rontok. Ia memiringkan tubuhnya lalu mengelus rambut Darren dengan lembut. “Mas, bangun!”
“Udah mau tengah malam dan kita masih di kantor. Clarissa mau pulang.”
“Hmm..” Darren hanya bergumam sebagai jawaban.
“Mas Darren bangun, yuk! Kita harus pulang.”
“Lima menit lagi!”
Bukannya bangun Darren justru menarik Clarissa ke dalam pelukannya. Ia menenggelamkan wajahnya di d**a sang istri, hal itu membuat tidurnya semakin nyenyak.
“Yaudah, Clarissa tunggu sampai lima menit. Awas aja kalau minta tambahan waktu lagi.”
“Hmm..”
10 menit kemudian
Sudah 10 menit Clarissa menunggu dan suminya belum juga bangun. Bahkan ia memberikan tambahan waktu 5 menit dari yang diingingkan suaminya. Clarissa menggoyangkan lengan Darren mencoba membangunkan suaminya itu.
“Mas, ayo bangun!”
“Ini sudah lewat dari 5 menit. Clarissa kasih tambahan waktu jadi 10 menit.”
“—“
Darren sama sekali tidak bergerak, yang ada hanya suara dengkuran darinya. Clarissa tidak berhenti menggoyangkan lengan Darren dan terus berusaha membangunkannya.
“Mas, bangun!”
“Ck, Clarissa mau pulang, mas!” ucapnya dengan nada kesal
Clarissa mulai sedikit kesal karena Darren susah untuk dibangunkan. Bibirnya mengerucut. Ia ingin pulang dan istirahat di rumah. Padahal mereka sudah tidur cukup lama tapi Darren masih susah untuk dibangunkan.
Tiba-tiba terbesit sebuah ide di kepala Clarissa. Ia menahan tawa menatap wajah suaminya. Ia yakin dengan ide’nya kali ini Darren akan bangun. “Maaf ya mas, habisnya Mas Darren ngeselin banget.”
Dengan iseng Clarissa menutup hidung Darren dengan dua jarinya, agar laki-laki itu tidak bisa bernafas. “Emhh..” Darren mulai bergerak tidak nyaman karena tidak bisa bernafas.
“Makanya bangun.” gerutu Clarsisa
“Hmptt..”
Darren membuka mata karena sudah tidak bisa bernafas. Dan ternyata istrinya sendiri pelakunya. “Sayang, lepasin!” ucapnya dengan suara tidak jelas
“Makanya bangun, ih! Susah banget dibanguninnya.”
“Iya, ini bangun.”
“Lepasin!”
Clarissa melepas jarinya dari hidung Darren. “Huhh..”
“Huhh..” Darren menghirup udara sebanyak mungkin. Ia hampir mati karena tidak bisa bernafas.
“Sengaja banget sih!” ujar Darren
“Emang. Kalau nggak gini Mas Darren nggak akan bangun.”
“Saya nggak bisa nafas, Clarissa.”
“Ini udah bisa!”
“Tapi rasanya masih sesak. Saya butuh bantuan pernafasan.”
“Nggak! Jangan aneh-aneh ya, mas!”
Ketika Clarissa ingin bangun dengan cepat Darren menarik lengan istrinya itu. Dan…
Dugh
“Awss..”
Clarissa jatuh ke pelukan suaminya. Darren mendorong tengkuk Clarissa sampai bibir keduanya menyatu. Ia membutuhkan bantuan pernafasan dari istrinya. Bukan hanya itu, ia juga ingin hal lainnya.
“Mas…”
“Hmptt..” belum selesai Clarissa bicara Darren menggerakkan bibirnya membuat perkataan wanita itu terhenti.
Darren mengangkat tubuh istrinya dengan mudah. Dan sekarang posisi Clarissa berada di atas tubuh suaminya. Justru sekarang Clarissa yang hampir kehilangan nafas kasar suaminya.
“Emhh..”
“Enghh..” lenguh Clarissa
Tangan kanan Darren tidak tinggal diam. Tangannya bergerak menyusuri lekuk tubuh Clarissa. Keduanya yang masih polos membuat Darren dengan mudah terpancing. Baru beberapa jam yang lalu mereka selesai berhubungan dan sekarang Darren menginginkannya lagi.
Kedua benda kenyal Clarissa bersentuhan langsung dengan dadanya membuat jantung Darren berdesir hebat. Tubuhnya merasakan getaran cinta untuk ke sekian kalinya.
Darren tidak bisa mendiamkannya begitu saja. Kedua tangannya terasa gatal untuk bermain di sana. “Sshh..” ringis Clarissa
“Mas, kita udah melakukannya dua kali.”
“Enghh..”
“Entahlah, berada di dekat kamu saya ingin terus melakukannya, Clarissa.”
“Emhh..”
Dan…
Brugh
Darren memutar posisi keduanya, dan sekarang ia yang menindih tubuh Clarissa. Ia bergerak turun mencium dua benda kenyal milik istrinya. Bahkan ia seperti seorang bayi yang sedang kehausan.
“Mashh…”
“Udah, stop!” ujar Clarissa dengan nada meracau
“Satu kali lagi, sayang!”
“Tapi…”
“Enghh..”
Clarissa tidak diberi kesempatan untuk berbicara oleh Darren. Laki-laki itu terus menghujani tubuhnya dengan sentuhan-sentuhan darinya. Tubuh Clarissa bergetar merasakan getaran cinta itu.
Setelah puas bermain di atas Darren bergerak turun ke bawah. Ia mencium perut rata Clarissa dengan sesekali menggesekkan hidung mancungnya di sana. Hembusan nafas serta kumis tipis Darren membuat Clarissa menggeliat kecil karena merasa geli.
“Emhh..”
“Geli, mashh..” ujar Clarissa sembari mencengkram rambut suaminya
Cup
“Saya sudah tidak sabar menunggu buah hati kita tumbuh di dalam sini, Clarissa.” Gumam Darren
Fyuhh
Darren meniup pelan perut Clarissa membuat wanita itu menahan nafas. “Mashh.. jangan terus menggoda Clarissa! Clarissa sudah…”
“Engghh..”
“Sudah apa, sayang?”
“Sudah tidak tahan.”
Darren tersenyum smirk mendengar jawaban istrinya. Padahal baru beberapa menit yang lalu Clarissa menolaknya, tapi sekarang justru Clarissa yang menginginkan sentuhan darinya.
“Memangnya boleh sekali lagi?” tanya Darren
Clarissa mengangguk. “Boleh, mas.”
“T-tapi hanya satu kali, dan setelah itu kita pulang!”
“Hmm.. baiklah!”
Darren memenuhi permintaan istrinya. Dan…
“Aakkhhh..” lenguh keduanya secara bersamaan
Tidak ada yang melarang sekalipun mereka melakukannya berulang kali. Mereka sudah Sah menjadi pasangan suami-istri. Dan yang pastinya mereka sama-sama menginginkan untuk segera memiliki momongan untuk melengkapi keluarga kecil mereka.
Next>>