Bolu pisang dan teh manis panas memang sudah menjadi makanan dan minuman kesukaan Kinan. Dika masih setia duduk di tepi ranjang dan meyuapi Kinan dengan sangat telaten. 'Begini mungkin rasanya jika memiliki istri, begitu pun sebaliknya. Jika aku yang sakit, bisa saja Kinan akan memperlakukan aku dengan hal yang sama,' batin Dika di dalam htainya. Semburat senyum jelas terlihat di wajah Dika yang membuat Kinan mengernyitkan dahinya bingung. "Dika ... Kenapa senyum - senyum?" tanya Kinan pelan. Mulutnya masih penuh bolu pisang berukuran besar. "Gak senyum - senyum. Biasa saja," ucap Dika langsung bersikap serius. Untuk kesekina kalinya Kinan selalu mendapatkan moment dimana Dika melamun dan memikirkan gadis cantik yang ada di depannya itu. "Pulangnya besok pagi saja ya? Besok pagi - pagi

