Kiara akhirnya selesai bersiap dalam waktu delapan menit! Ia menuju ke pintu sebelah dan mengetuknya dengan cepat dan terburu-buru.
"Siapa sih pagi-pagi berisik!" teriakan dari dalam kamar membuat Kiara menelan ludah. Ia tidak punya pilihan lain selain mengetuk pintu di samping kontrakannya.
"A–aku, Mbak– Kiara, aku mau minta tolong – Mbak, minta obat yang pernah Mbak tawarkan." ujar Kiara dengan suara terbata-bata.
Tidak ada suara apapun selama beberapa detik, sebelum akhirnya pintu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita memakai pakaian kurang bahan di ambang pintu.
"Kenapa? Kebobolan?" tanyanya sembari menatap tajam ke arah Kiara, dan tangannya tampak ia lipat di atas perut.
Kiara menatap wanita itu sejenak, sebelum akhirnya menunduk dalam. Helaan nafas terdengar dari wanita di hadapan Kiara, dan ia juga mendengus kesal dalam waktu yang sama.
"Hais! Ya sudah, tunggu di sini. Aku akan ambilkan." ujar wanita itu sembari berbalik pergi.
"Eh, Mbak!" Kiara menahan wanita itu pergi dengan memegang lengannya pada saat itu.
Wanita itu menatapnya kesal lalu menampis tangan Kiara. "Apa sih?!"
Jawabannya ketus, dan ia tampaknya sangat kesal. Tapi Kiara akhirnya tidak mundur, dan ia tetap berusaha untuk mengambil langkah berani pada saat itu.
"Mbak, apa kamu punya obat perangsang?" tanya Kiara dengan suara sangat pelan, dan nyaris tidak terdengar.
"Apa?!" tanyanya dengan suara meninggi dan matanya tampak terbelalak karena ia begitu terkejut mendengarkan setiap kata yang Klara ucapkan padanya.
Kiara memang nekat meminta obat terlarang itu pada tetangga kos nya yang berprofesi sebagai kupu-kupu malam. Dan ia yakin, wanita itu pasti memiliki obat semacam itu.
***
Sepuluh menit yang di jadwalkan akhirnya terpenuhi. Kiara berlari kecil ke arah sebuah mobil yang ada di jalan depan kosnya tinggal.
Nafasnya sedikit memburu sebelum ia akhirnya sampai dan mengetuk jendela pintu mobil. Jendela terbuka perlahan, Kiara menelan ludah saat melihat ekspresi wajah Arthur yang tampak terlihat sangat datar, namun tatapan matanya tajam!
"Bukankah aku bilang sepuluh menit?!" tegas Arthur.
"Daddy, aku benar-benar datang dalam waktu sepuluh menit." ujar Kiara sembari menunjukan layar ponselnya. Dan benar saja, ia memang tepat waktu.
"Masuk!" ujar Arthur dengan sangat tegas. Kiara buru-buru masuk ke dalam. Penampilan yang semula rapi seketika berantakan hanya dalam waktu beberapa detik saja. Kiara mencoba bercermin menggunakan ponselnya, dan ia tampak berdecak kesal sendiri karena hal tersebut.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, tidak ada pertanyaan yang Kiara lontarkan. Dan ia tidak bicara juga, seolah ia sudah benar-benar percaya pada Arthur dan juga berserah diri padanya.
Sikap seperti itu membuat Arthur merasa asing, tapi sekaligus tertarik. "Gadis kecil, kau tidak ingin tahu kita akan ke mana?" tanya Arthur dengan suara dingin.
Kiara menoleh, menatap pria itu dengan pandangan mata yang sedikit sulit dimengerti.
"Awalnya juga begitu, tapi aku lebih penasaran, Daddy, kenapa kamu menghubungiku pagi buta." balas Kiara.
"Aku sudah membayarmu mahal! Kewajiban kamu adalah melayani setiap aku meminta!" tegasnya lagi.
Kiara menghela nafas, "Karena inilah aku tidak bertanya. Rasanya percuma saja, buang-buang tenaga."
Ucapan Kiara tiba-tiba saja membuat Arthur terdiam, dan ia juga memikirkan segala ucapannya sendiri.
Entah mengapa, di samping gadis itu, ia merasakan ingin, tapi juga merasakan kesal dalam setiap dekat dengan gadis itu.
Perjalanan terasa lambat bagi Kiara, dan mungkin semua itu terjadi karena ia tidak tahu sama sekali hendak dibawa ke mana. Dalam keadaan pagi buta, jalanan terlihat tetap ramai di kota besar itu. Meskipun demikian, Kiara merasa sepi.
Apa yang Ronald lakukan membuatnya terjerumus dalam pilihan salah, dan Kiara kini merenungi pilihannya yang membawanya ke ambang kehancuran. Tapi ada satu hal yang aman di situasi ini, ia mendapatkan banyak uang.
Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu..., "Daddy, kamu membawaku ke apartemen?" tanya Kiara dengan mata yang sedikit membola.
"Aku rasa lebih aman kau tinggal di sini, aku juga akan lebih mudah datang." balas Arthur singkat.
"Kenapa tidak bicara dulu padaku?!" tanya Kiara dengan nada suara terkejut tapi juga penuh tanda tanya besar!
"Untuk apa, aku tidak perlu persetujuan darimu! Aku hanya memerintahkanmu, dan kamu harus menurut!" tekannya lagi!
Pria itu tampak membuka pintu mobil, dan ia keluar dari sana tanpa mengajak Kiara. Kiara tercengang dalam waktu yang bersamaan, ia sungguh tidak habis pikir mengapa pria itu sama saja sikapnya dengan Ronald.
"Ah, iya! Dia kan ayahnya." gumam Kiara sembari memijat pelipisnya.
Kiara keluar dari dalam mobil, dan ia mengikuti kemana Arthur pergi, hingga mereka sampai ke sebuah apartemen. Setelah pintu di buka, mereka akhirnya masuk ke dalam.
Mata Kiara dimanjakan oleh kemewahan, dan Arthur menarik tangannya untuk segera masuk.
"Kamu belum menkonsumsi apapun, sebaiknya kita minum dulu dan sarapan." ujar Arthur.
Ucapan pria itu membuat Kiara sedikit terkejut.
"Di mana dapurnya, Daddy? Aku bisa memasak untuk kamu." balas Kiara. Arthur menoleh ke arahnya seakan tidak percaya dengan ucapan gadis itu.
"Aku bisa, Daddy." pintanya dengan sangat meyakinkan.
"Sebelah sana, dan hanya ada bahan masakan sederhana, aku harap kamu bisa mengolahnya dengan baik." ujar Arthur sebelum akhirnya melenggang pergi.
Kiara akhirnya bisa bernafas lega, yang ia butuhkan adalah sedikit waktu untuk mencampurkan obat yang ia dapatkan, dan ia akan memikirkan masalah masakan nanti.
Setelah melihat persediaan di dapur, akhirnya Kiara membuat Pancake, dan salad buah sederhana.
Setelah beberapa saat, semua itu sudah terjadi di meja, dan ada dua gelas jus jeruk di sana. Arthur datang sembari merasa sedikit heran.
"Ini masih terlalu pagi, kenapa sarapan dengan minuman jus jeruk?" tanyanya bingung.
"Aku tidak tahu harus membuat apa, karena hanya itu bahan yang ada." balas Kiara santai. Ia bahkan tidak menoleh dan tetap melakukan aktivitasnya, padahal – ia tengah mati-matian menyimpan rasa gugup dan takut setelah memasukan sesuatu ke dalam gelas Arthur.
Sarapan berjalan seperti seharusnya, tapi..., Arthur merasa tubuhnya tiba-tiba panas.
"Daddy, sebenarnya aku ingin bertanya, kenapa kamu menjadikanku simpanan." pertanyaan Kiara membuat Arthur menoleh, tapi tatapannya terlihat tajam, dan sekaligus ada hawa nafsu di sana.
Ia menarik tangan gadis itu lalu berkata... "Kau membubuhi sesuatu pada minumanku?!" tuduhnya.
"Tidak!" tolak Kiara.
"Jangan bohong! Sekarang tanggung jawab! Kau harus menuntaskannya!"
"Tidak, Daddy! Sebelum kamu menjawab pertanyaanku!" tekan Kiara, kali ini ia bertindak berani, dan ia memang melakukan semua itu demi sesuatu yang ia cari. "Katakan apa alasan daddy, setelahnya, aku siap melayani sepuasnya!"