Sleep call

1308 Words

Hujan masih menetes lembut dari langit malam, meninggalkan aroma tanah basah dan suara ritmis yang menenangkan. Di teras rumah sederhana itu, lampu kuning temaram menyinari dua sosok yang duduk berdampingan Elvan dan Cindera. Cindera mengenakan sweater hangat dan selimut tipis di pundaknya, sementara Elvan duduk di sampingnya, memegang secangkir teh hangat yang baru saja disuguhkan oleh ibunya. “Udara di sini segar sekali,” ujar Elvan pelan, menatap ke arah halaman yang masih tergenang air hujan. “Berbeda dengan udara di kota yang selalu penuh polusi.” Cindera tersenyum tipis, menatap lurus ke depan. “Aku memang suka suasana begini. Tenang. Hujan selalu bisa menenangkan hatiku, bahkan kalau aku sedang sesulit apa pun.” Elvan memandangnya lekat-lekat. Cahaya lampu memantul di wajah Cin

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD