Virian menghela napas panjang saat mobil Maybach hitamnya meluncur melewati gerbang utama Penthouse Pratama, melompati batas antara dunia Vir (samaran) dan Virian (CEO). Udara dingin Jayadwipa terasa lebih berat dan steril di sini, kontras tajam dengan bau bensin dan bunga mawar di tempat Karina. Ia melepaskan wig dan janggut palsunya, menyerahkannya pada Zen di dalam mobil.
(ucap Virian, suaranya kembali tajam dan dingin, menatap keluar jendela): “Semua agenda yang berhubungan dengan Bianca dan Ayahku, biarkan aku yang urus. Kau fokus pada enkripsi itu, Zen.”
(ucap Zen, nadanya tegang, memegang tas berisi properti samaran Virian): “Bapak harus tahu, data encryption ini bukan buatan security PGG biasa. Ini pasti dari luar, profesional. Saya mencoba bypass empat kali, firewall-nya nyaris melahap laptop saya. Ini lebih parah daripada kasus limbah B3. Ini tentang jaringan kriminal di balik PGG, Pak.”
(ucap Virian, menatap Zen tanpa ekspresi): “Bekerjalah lebih keras. Kita butuh bukti transfer ke Alexa Wijaya sebelum aku kehilangan kursi ini.”
Zen mengangguk lemah, tahu bahwa Virian tidak menerima kegagalan.
Begitu Virian memasuki Penthouse, aroma perfume mahal Ibunya dan keheningan yang dibalut kemewahan langsung mencekiknya. Ia merasa lebih terasing daripada saat berada di kamar kos sempit. Virian segera mengganti kemeja katun lusuh dengan setelan Boss yang sempurna.
Tiba Rapat Dewan Direksi : Perang Dingin
Pukul 11.00 pagi, Virian memasuki ruang rapat utama PGG. Suasana sudah tegang. Di ujung meja, duduklah Aryo Pratama, Ayahnya, dengan sorot mata yang otoriter dan menuntut. Di sebelahnya, bersinar anggun dalam balutan dress merah maroon, adalah Bianca Sasmita.
(ucap Aryo, nadanya mendominasi): “Kau terlambat, Virian. Kau tahu Dewan Direksi sudah menunggu sejak pagi. Cuti tak beralasanmu sudah cukup merusak citra kita.”
(ucap Virian, suaranya tenang, mengambil tempat duduk): “Maaf, Ayah. Aku sedang mengurus masalah pribadi yang mendesak, dan kini aku kembali untuk memenuhi tanggung jawab korporatku.” (Perbaikan: Menghapus referensi "Bab 1") Virian menatap dingin ke arah Bianca.
(ucap Bianca, senyumnya dingin dan mematikan, mencondongkan badan ke depan): “Masalah pribadi apa, Sayang? Yang membutuhkan CEO PGG No. 1 di Jayadwipa untuk menghilang selama tiga hari tanpa kontak? Media mulai berbisik, Virian. Kita harus segera membantah gossip itu dengan mengumumkan tanggal pernikahan.” (Koreksi: Penambahan sapaan "Sayang")
(ucap Virian, menyandarkan diri, memegang kendali): “Itu agenda pribadi, Bianca. Prioritas rapat ini adalah kerugian kuartal terakhir dan masalah limbah. Zen, berikan laporan singkat mengenai audit internal.”
Zen, yang berdiri kaku di samping Virian, segera mempresentasikan data yang sudah diolah.
(ucap Zen, formal): “Angka kerugian yang disebabkan oleh penanganan limbah yang buruk, Pak, telah mencapai $5 juta. Kami juga menemukan laporan palsu dari PT. Wijaya Beton yang tidak sesuai dengan data lapangan.”
(ucap Bianca, memotong dengan sinis): “Kerugian $5 juta itu setetes air di lautan aset PGG, Virian. Ini adalah masalah supply chain biasa. Tapi hilangnya CEO kita secara misterius, itu adalah kerugian citra yang jauh lebih besar. Kami—maksudku, Dewan Direksi—menuntut jaminan dari kamu.”
(ucap Aryo, mengangguk setuju): “Bianca benar. Kami ingin kau menandatangani perjanjian yang menunjukkan komitmenmu. Kamu harus memberikan jaminan bahwa pernikahan akan segera terlaksana, atau kami harus mempertimbangkan kembali posisi kamu di kursi CEO.”
Virian mengernyit. Ancaman pelengseran telah dimulai.
(ucap Virian, suaranya datar, menatap Bianca): “Jaminan apa yang kau minta, Bianca?”
(ucap Bianca, menyerahkan dokumen tebal): “Perjanjian pra-nup yang mengikat. Hanya untuk menjaga stabilitas, Virian. Jika kamu kembali melarikan diri, maka controlling PGG akan diserahkan kepada Dewan Direksi yang ditunjuk Ayah ku.”
Virian meraih dokumen itu. Matanya menyapu klausul-klausul hukum. Ini bukan hanya tentang pernikahan; ini adalah upaya Bianca untuk mendapatkan kunci kendali PGG.
Kring! Kring!
Ponsel rahasia Virian bergetar di sakunya. Itu pesan teks darurat dari Zen.
(Teks Zen kepada Virian): "VIR! DATA TRANSFER KE ALEXA WIJAYA TERENKRIPSI TINGKAT DEWA! SAYA GAGAL TOTAL! SAYA BUTUH WAKTU MINIMAL 24 JAM DAN HACKER PROFESIONAL! AYAHMU DI BELAKANG SAYA BARU SAJA BERTANYA KENAPA KOMPUTER SAYA BERBUNYI ANEH! GILA!"
Virian membaca pesan itu sambil mendengarkan ocehan Bianca tentang citra dan legacy. Ia harus mengulur waktu.
(ucap Virian, menutup dokumen pra-nup): “Aku tidak akan menandatangani dokumen ini sekarang. Aku butuh waktu 24 jam untuk meninjau detailnya. Bisnis PGG jauh lebih penting daripada drama pernikahan.”
(ucap Bianca, nadanya meninggi): “Drama? Ini komitmen! Kamu selalu tidak jujur dengan perasaan kamu, Virian!”
Virian bangkit dari kursi, menatap Bianca dengan tatapan dingin yang mematikan.
(ucap Virian, suaranya tenang namun mengandung ancaman): “Aku selalu jujur dalam bisnis, Bianca. Tapi aku tidak punya kewajiban untuk jujur tentang perasaanku pada kamu. Sekarang, aku akan menunda rapat ini. Aku ada urusan yang lebih mendesak.”
Tiba-tiba, Virian menerima panggilan masuk di ponsel resminya. Mirna Pratama, Ibunya.
(ucap Virian, mengangkat telepon dengan nada lelah): “Ya, Ibu.”
(ucap Mirna, di seberang telepon, suaranya mengeluh): “Virian! Kamu menyusahkan! Semua orang menanyai Ibu di klub golf. Kapan kamu akan menikah? Ibu muak menjawab pertanyaan-pertanyaan ini! Kenapa kamu tidak bisa menerima Bianca dan hidup normal seperti orang kaya lainnya? Ibu lelah dengan sandiwara kamu!”
Virian memejamkan mata sejenak. Tekanan dari Ayah (PGG), Bianca (Perjodohan), dan Ibu (Citra) menghantamnya secara bersamaan. Ia merasa sendirian dan terpojok di tahtanya sendiri. Virian menyadari bahwa jika ia tidak segera mendapatkan bukti transfer tersebut, ia akan dipaksa menikah, atau lebih buruk, dilengserkan dari PGG, yang berarti Proyek Penggusuran akan berjalan dan Karina serta komunitasnya akan terancam.
Saat ia membuka mata, Virian tanpa sadar menyentuh saku jasnya—ia masih menyimpan mawar putih kering dari Karina. Sentuhan mawar itu seolah memberinya napas, pengingat akan kejujuran dan keaslian yang ia cari.
(monolog Virian, dalam hati, menatap Bianca yang penuh ambisi): Aku harus menemukan bukti itu. Jika aku jatuh di sini, aku tidak hanya kehilangan PGG, tapi aku kehilangan kesempatan untuk menjadi jujur. Aku harus melindungi apa yang murni. Aku harus melindungi alasan mengapa aku menjadi 'Vir'.
(ucap Virian, kepada Ibunya, singkat): “Aku akan mengurusnya, Bu. Aku tutup.” Ia memutus panggilan.
(ucap Virian, kepada Dewan Direksi, tegas): “Rapat ditunda. Zen, siapkan mobil pribadi dan cari solusi untuk enkripsi itu. Kita harus segera kembali ke track yang benar.”
Virian meninggalkan ruang rapat, berjalan cepat menuju lift pribadi. Ia menolak tatapan tajam Ayahnya dan senyum kemenangan Bianca. Ia tahu ia harus segera mencari bantuan profesional untuk enkripsi tersebut.
(ucap Zen, panik, mengikuti Virian ke dalam lift): “Vir! Mau ke mana? Kita harus cari hacker handal! Tapi di Jayadwipa ini semua mata-mata! Gaji saya jangan dipotong, Pak!”
(ucap Virian, matanya fokus, nada berbisik): “Kita tidak butuh hacker terkenal. Kita butuh orang yang mau bekerja di bawah tanah dan tidak terikat dengan kekuasaan Jayadwipa. Telepon koneksi lama kamu di IT underground.”
Virian menatap refleksi dirinya di cermin lift. CEO PGG yang dingin dan sempurna, tetapi di dalam hatinya, ia dipandu oleh seorang penjual bunga buta yang jauh lebih jujur daripada semua orang di gedung ini.